Begini Penjelasan Matahari Soal Penutupan Hypermart

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Fransiskus S

    TEMPO/Fransiskus S

    TEMPO.CO, Jakarta -Corporate Secretary PT Matahari Putra Prima Tbk, Danny Kojongian menyatakan penutupan dua gerai Hypermart adalah hal biasa dalam bisnis retail. Menurut Danny perseroan menerapkan prinsip productivity, performance, efficiency yang berfokus kepada pencapaian tingkat maksimal.

    Prinsip ini menyebabkan banyak aspek termasuk tenaga kerja yang akan mengalami tingkat kenaikan atau penurunan sejalan dengan dinamika yang berjalan. "Hal ini merupakan proses normal perusahaan dalam menjalankan tingkat usahanya," kata Danny dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 14 Juli 2017.

    Danny menuturkan dalam operasionalnya, ada banyak gerai perseroan yang memberikan kontribusi positif dalam bisnis retail perusahaan dan akan terus dimaksimalkan. Namun ada juga gerai yang tak dapat memberikan kontribusi positif yang berujung pada penutupan gerai dengan dampak langsung pengurangan tenaga kerja yang tak dapat dihindari.

    Menurut Danny secara berkelanjutan pihaknya akan terus mengembangkan usaha dan bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan prospek perekonomian dan retail nasional yang positif. Matahari  juga akan terus berekspansi membuka gerai-gerai baru.

    Gerai-gerai baru yang akan diekspansikan adalah multi format Hypermart, Foodmart, SmartClub, dan Boston HBC, yang secara keseluruhan akan banyak menyerap tenaga kerja baru seperti yang sudah terjadi di dalam 14 tahun terakhir.

    Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Tutum Rahanta, mengatakan penutupan gerai merupakan hal yang wajar dalam bisnis retail. "Mencari lokasi baru, mengubah format bisnis, menutup gerai, wajar-wajar saja," katanya kepada Tempo saat dihubungi pada Jumat, 14 Juli 2017.

    Tutum mengungkapkan industri retail akan sulit mencapai target tahun ini. Alasannya pencapaian selama kuartal I dan kuartal II 2017 tak begitu menguntungkan. Target pertumbuhan industri ritel di tahun ini adalah 10 persen.

    Baca: Peritel Gigit Jari, Lebaran Sepi Transaksi

    Menurut Tutum di dalam bisnis ritel ada fenomena persaingan dan daya tahan. Untuk hal ini, harus melihat keadaan daya beli masyarakat, apakah memungkinkan membuat para peritel bisa mencapai target atau tidak.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.