Sri Mulyani: Defisit Keseimbangan Primer Semester I 2017 Menurun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan kepada wartawan bersama Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin, Jaksa Agung HM Prasetyo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang usai Rapat Koordinasi Program Penertiban Impor Beresiko Tinggi di Kantor Ditjen Bea Cukai, Jakarta, 12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan kepada wartawan bersama Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin, Jaksa Agung HM Prasetyo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang usai Rapat Koordinasi Program Penertiban Impor Beresiko Tinggi di Kantor Ditjen Bea Cukai, Jakarta, 12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah mencoba mengelola utang dengan hati-hati. Salah satu buktinya terlihat dari defisit keseimbangan primer sepanjang semester I 2017.

    Sri Mulyani mengatakan defisit keseimbangan primer pada periode tersebut Rp 68,2 triliun. Dibanding semester I 2016, angkanya kurang dari separuhnya. Saat itu, defisit keseimbangan primer mencapai Rp 143,4 triliun. "Ini menunjukkan kami mencoba memperbaiki APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) tanpa membebani ekonomi," katanya dalam rapat bersama Badan Anggaran di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 13 Juli 2017.

    Sri mengatakan defisit memang masih terjadi. Pasalnya, upaya yang dilakukan pemerintah tidak langsung mengubah total karena berisiko menimbulkan kekagetan. "Namun arahnya sudah benar dan akan kami jaga terus," ujarnya.

    Adapun defisit APBN semester I sebesar 1,29 persen. Angkanya lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 1,82 persen. "Artinya, defisit bisa dikendalikan dengan baik," ucapnya.

    Realisasi pembiayaan melalui pembiayaan Surat Berharga Negara (SBN) neto semester I turun 23,3 persen. Angkanya jauh lebih baik dari tahun lalu, naik 34 persen.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.