BEI: Semua Transaksi Tersimpan di JATS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasuition membuka sesi perdagangan bursa saham hari ini di gedung Bursa Efek Indonesia, 23 Juni 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasuition membuka sesi perdagangan bursa saham hari ini di gedung Bursa Efek Indonesia, 23 Juni 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memeriksa transaksi yang sempat terjadi pada pukul 09.00 hingga 10.00. Pada periode itu, sistem penyebaran data bursa atau IDX Datafeed sedang mengalami gangguan teknis di BEI.

    Akibatnya, transaksi tidak bisa terlihat. Indeks saham terpantau stagnan di level penutupan terakhir akhir pekan lalu.

    Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, mengatakan seluruh transaksi bursa yang terjadi tetap tersimpan di Jakarta Automated Trading System (JATS). "Sementara seluruh penawaran jual dan permintaan beli yang belum match atau open order, akan dihapus oleh sistem JATS," ujarnya, seperti yang dilansir lewat pernyataan tertulis, Senin, 10 Juli 2017.

    Baca:
    Bi Izinkan Pedagang Transaksi Valuta Asing di Perbatasan RI-PNG
    Gangguan Teknis Teratasi, Jadwal Perdagangan Bursa Efek Berubah

    Tito mengatakan, acuan harga perdagangan Efek Bersifat Ekuitas mulai pukul 10.00 waktu JATS akan menggunakan harga penutupan pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat, 7 Juli 2017. Gangguan teknis itu, mulai pukul 08.52, dan telah ditangani satu jam kemudian.

    Jadwal perdagangan berubah, sesi I pukul 10.00 hingga 12.00. Sesi istirahat pada pukul 12.00 hingga 13.30. Sesi selanjutnya pada 13.30 hingga 15.50. Masa pre closing dibuka pukul 15.50 hingga 16.00. Pembentukan harga pada pukul 16.00-16.05. Untuk post trading, dimulai pukul 16.05-16.15. 


    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.