Pembayaran Tanah 'Disneyland' Boyolali Mundur dari Jadwal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN Nasri Sebayang (depan kiri) meninjau Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV Pedan di Kabupaten Klaten. Menurut Nasri, sistem kelistrikan Jawa-Bali sudah kuno sehingga rawan terjadi banyak hambatan jika pembangkit-pembangkit listrik baru sudah beroperasi. TEMPO/DINDA LEO LISTY

    Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN Nasri Sebayang (depan kiri) meninjau Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV Pedan di Kabupaten Klaten. Menurut Nasri, sistem kelistrikan Jawa-Bali sudah kuno sehingga rawan terjadi banyak hambatan jika pembangkit-pembangkit listrik baru sudah beroperasi. TEMPO/DINDA LEO LISTY

    TEMPO.CO, Boyolali - Pihak investor yang dikabarkan hendak membangun taman wisata bertaraf internasional yang diklaim mirip Disneyland di Kabupaten Boyolali hingga kini belum juga membayar tanah yang telah disediakan seluas 100 hektare. “Pembayarannya kan mustinya sebelum hari raya Idul Fitri. Tapi ini minta mundur setelah Idul Fitri,” kata Bupati Boyolali Seno Samodro kepada Tempo pada Senin, 10 Juli 2017. Seno mengatakan, tenggat waktu pembayaran itu sampai November 2017.

    Meski waktu yang tersisa tinggal empat bulan, Seno optimistis proyek dengan nilai investasi mencapai Rp 6,1 triliun tersebut bakal terealisasi seperti rencana semula. Menurut dia, sang investor yang hingga kini masih dirahasiakan identitasnya itu sempat khawatir lantaran rencana pembangunan taman tersebut menuai berbagai respon dari beberapa kalangan.

    “Sekarang investor kan jadi takut. Dia bilang, Pak, sekarang lihat timing dulu ya. Kira-kira seperti itu,” kata Seno. Wacana pembangunan taman wisata di Boyolali itu ramai diperbincangkan pada April lalu. Meski Seno sudah meralat pernyataannya bahwa taman yang akan dibangun itu bukan Disneyland, cibiran seolah tak henti menderanya.

    “Bupati itu hoax, terserah. Nggak percaya aku nggak masalah. Aku nggak butuh kepercayaanmu. Aku butuh kepercayaan investor sing duwe (yang punya) duit. Saya mau ngomong apa. Ayo mas investor, cepet-cepet (membayar),” kata Bupati Boyolali dua periode itu (2010 - 2021).

    Meski tidak bersedia mengungkapkan identitas investor maupun lokasi yang telah disediakan, Seno mengatakan rencana pembangunan taman wisata bertaraf internasional itu bukanlah omong kosong. Dia mengaku sudah diperlihatkan gambar atau desain taman itu dari ponsel. “Disneyland pedot (kalah), Mas. Tenan, ra dobol (sungguh, tidak bohong),” kata Seno.

    Menurut Seno, investor taman wisata itu adalah orang asing yang sudah puluhan tahun di Indonesia. “Menteri ditanya nggak ada yang tahu karena normatifnya penanaman modal harus lewat BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Lha ini kan tidak normatif,” kata Seno.

    Karena uang milik investor misterius itu sudah lama tertanam di Indonesia, Seno berujar, proses perizinan investasinya cukup dari Bupati. “Misalnya kamu owner Freeport. Berarti kamu investasi sudah 40 tahun lebih. Kamu punya uang banyak di Indonesia, lalu mau buka usaha kafe. Karena uangmu sudah di Indonesia, izinnya tidak perlu dari BKPM,” ujar Seno.

    Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Boyolali Eko Nugroho tidak banyak berkomentar saat dikonfirmasi ihwal rencana pembangunan taman wisata mirip Disneyland di Boyolali tersebut. “Yang tercatat di dinas kami adalah investasi yang sudah terealisasi,” kata Eko.

    Eko menambahkan, perkembangan investasi di Boyolali tercatat begitu pesat dalam kurun enam tahun. Pada 2010, investasi di Boyolali hanya tercatat sekitar Rp 74 miliar. Adapun nilai total investasi pada 2016 hampir mencapai Rp 8 triliun.

    DINDA LEO LISTY 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.