Wamen ESDM Tinjau Pemulihan Tanah Tercemar Minyak Chevron di Riau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memberikan keynote speech tentang komitmen pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam, di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Rabu 1 Maret 2017. TEMPO/Diko

    Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memberikan keynote speech tentang komitmen pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam, di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Rabu 1 Maret 2017. TEMPO/Diko

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Arcandra Tahar meninjau sumur minyak yang dikelola PT Chevron Pacifik Indonesia di Blok Rokan Minas dan Duri di Riau. Arcandra melihat langsung persoalan pipa aliran utama yang sudah berusia tua dan tanah tercemar minyak.

    "Melihat usulan penggantian pipa dan pemulihan lingkungan," ujarnya, saat ditemui di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Kamis malam, 6 Juli 2017.

    Simak: PP Tentang Aturan Pajak Skema Gross Split Segera Dirilis

    Namun sebelum itu kata dia, kementerian perlu mengetahui upaya apa saja yang sudah dilakukan Chevron dalam perawatan pipa aliran utama selam lebih dari 50 tahun itu. Setidaknya sepanjang 120 Kilomater pipa perlu diganti karena sudah termakan usia pada Blok Rokan seperti Minas, Duri, Dumai dan Bangko. "kalau tidak segera diganti bisa menjadi hazard (bahaya) bagi lingkungan," ucapnya.

    Selain itu kata dia, pencemaran tanah akibat terkontaminasi minyak selama eksplorasi menjadi perhatian pemerintah untuk dilakukan pemulihan. Pihaknya menerima usulan beberapa luas lahan yang tercemar minyak perlu dilakukan pemulihan di kawasan Blok Rokan.

    "Ini perlu kita rehabilitasi bagaimana caranya tidak menimbulkan resiko pada lingkungan dan manusia," ujarnya.

    Dalam hal ini Arcandra menambahkan, pihaknya tengah melakukan pembahasan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama pemerintah daerah terkait metode apa yang tepat dalam rangka projek pemulihan tersebut. "Apakah mengacu pada standar dunia atau undang-undang yang ada di Indonesia," ujarnya.

    Namun Arcandra membantah kedatangannya ke Blok Rokan sekaligus dalam rangka evaluasi kelanjutan kontrak Chevron yang bakal habis tahun 2021. Ia mengaku ihwal kontrak Blok Rokan saat ini masih dalam evaluasi di kementerian. "Masih kami evaluasi," ujarnya.

    Menurut Arcandra, siapapun nanti yang bakal mengelola blok rokan, baik itu exsisting atau kontraktor baru diharapkan produksi tidak mengalami penurunan dari sebelumnya. "Setidaknya menyamai produksi sebelumnya."

    Adapun ketentuan lain kontraktor baru harus memberikan hasil lebih baik kepada pemerintah dengan Participating Interest (PI). Pemerintah mesti mendapatkan porsi 10 persen dari kegiatan tersebut. "Ini adalah bentuk keberpihakan kita kepada daerah," ujarnya.

    Meski sudah tergolong blok tua, Blok Rokan masih punya potensi besar. Blok ini bahkan menjadi penyumbang produksi minyak terbesar di Indonesia. Sepanjang kuartal I tahun 2014, produksi minyak dari blok tersebut mencapai 230.170 barel per hari (bph).

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.