Penjelasan Sri Mulyani Soal Menurunnya Daya Beli Masyarakat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan pencapaian realisasi dan evaluasi program pengampunan pajak periode pertama di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Periode I program pengampunan pajak harta terdeklarasi mencapai Rp3.826,81 triliun. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan pencapaian realisasi dan evaluasi program pengampunan pajak periode pertama di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Periode I program pengampunan pajak harta terdeklarasi mencapai Rp3.826,81 triliun. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengomentari keluhan dari pengusaha ritel yang menilai bahwa daya beli masyarakat saat ini menurun. Melemahnya daya beli tersebut salah satunya terlihat dari laju inflasi pada 2016 yang mencapai titik terendahnya dalam satu dekade terakhir.

    Menurut Sri Mulyani, kontraksi yang dialami sektor pertambangan yang kemudian mempengaruhi sektor lainnya mengalami puncaknya pada kuartal IV 2016.

    "Mungkin ini masih merupakan imbas dari pelemahan ekonomi pada 2014-2016 karena komoditas dan ekspor yang melemah," kata Sri Mulyani di kantornya, Senin, 3 Juli 2017.

    Baca: Apindo: Lebaran 2017, Daya Beli Warga Melemah, Penjualan Menurun

    Ke depan, Sri Mulyani berujar, pemerintah akan fokus untuk meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat yang paling rentan. "Pemerintah akan melakukan belanja-belanja untuk sosial sehingga daya beli, terutama untuk 25 bahkan 40 persen masyarakat terbawah, tetap terjaga," tuturnya.

    Selain itu, menurut Sri Mulyani, pemerintah perlu meningkatkan kepercayaan konsumen, terutama dalam hal upah. "Hampir di seluruh dunia produktivitas mengalami stagnasi dan ini mempengaruhi kemampuan untuk meningkatkan daya beli melalui upah yang meningkat," ujar Sri Mulyani.

    Pemerintah, kata Sri Mulyani, akan terus menggenjot investasi, terutama infrastruktur dan sumber daya manusia. Menurut dia, dua faktor itulah yang sangat menentukan peningkatan produktivitas. "Selain itu, reformasi kebijakan akan terus dilanjutkan di bawah koordinasi Menko (Perekonomian) untuk memperbaiki minat investasi."

    Baca: BPS: Inflasi Bulan Puasa dan Lebaran 2017 Terendah Sejak 2014

    Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat. Tahun ini, menurut Hariyadi, daya beli masyarakat memang jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    "Ukurannya memang pada saat hari raya Idul Fitri. Hampir semua pengusaha menyatakan keluhannya bahwa ada penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun lalu," kata Hariyadi di kediaman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Senin, 26 Juni 2017.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.