Meski Harga Naik, Kemendag Tetapkan Ekspor CPO Tanpa Bea Keluar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja menaikkan panen kelapa sawit di perkebunan  kelapa sawit PT Nusantara 8 di Leuweung Datar,desa Sukasirna,Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (28/8). ANTARA/Teresia May

    Seorang pekerja menaikkan panen kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit PT Nusantara 8 di Leuweung Datar,desa Sukasirna,Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (28/8). ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan kembali menetapkan bea keluar untuk produk crude palm oil (CPO) US$ 0 per metrik ton pada Juli 2017. Besaran bea keluar ini sama dengan periode sebelumnya, yaitu pada Juni 2017, meski harga referensi CPO menguat.

    "Harga referensi CPO tengah menguat, tapi masih berada pada level di bawah US$ 750," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan melalui keterangan tertulis, Kamis, 22 Juni 2017.

    Alasan di atas, kata Oke, sebagai alasan mengapa pemerintah kembali mengenakan bea keluar US$ 0 per metrik ton untuk CPO. Ia menambahkan, pihaknya menetapkan harga referensi produk CPO untuk penetapan bea keluar periode Juli 2017 sebesar US$ 726,21 per metrik ton. 

    Baca: Kemendag Turunkan Harga Referensi Bea Keluar Produk CPO

    Menurut Oke, harga tersebut naik US$ 2,84 atau 0,4 persen dari periode Juni 2017, yaitu US$ 723,37 per metrik ton. Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 41/M-DAG/PER/6/2017 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

    Sedangkan bea keluar CPO pada Juli 2017 tercantum pada Kolom 1 Lampiran II Huruf C Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.010/2017 sebesar US$ 0 per metrik ton. 

    Simak: Harga Kembali Melemah, Ekspor CPO tanpa Bea Keluar

    Kemudian bea keluar dari komoditas biji kakao juga ditetapkan nol persen pada Juli 2017. Hal tersebut tercantum pada kolom 1 Lampiran II Huruf B Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.010/2017.

    Diketahui, harga referensi biji kakao pada Juli 2017 juga menguat US$ 84,47 atau 4,42 persen dari US$ 1.911,47 per metrik ton menjadi US$ 1.995,94 per metrik ton. 

    Hal ini berdampak pada penetapan HPE biji kakao yang juga menguat US$ 82 atau 5 persen dari US$ 1.639 per metrik ton pada Juni 2017 menjadi US$ 1.721 per metrik ton pada Juli 2017. Penguatan harga referensi dan HPE biji kakao disebabkan menguatnya harga internasional. 

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.