Ini Skenario Urai Macet di Pintu Tol Cileunyi Saat Arus Mudik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrean kendaraan mengular hampir 2 km di pintu keluar Tol Buahbatu, Bandung, 18 Juli 2015. Lebaran hari ke-2, ribuan kendaraan keluar masuk melalui tol Buahbatu, Pasteur, dan Cileunyi mengarah ke kawasan-kawasan wisata di Kabupaten Bandung dan Garut. TEMPO/Prima Mulia

    Antrean kendaraan mengular hampir 2 km di pintu keluar Tol Buahbatu, Bandung, 18 Juli 2015. Lebaran hari ke-2, ribuan kendaraan keluar masuk melalui tol Buahbatu, Pasteur, dan Cileunyi mengarah ke kawasan-kawasan wisata di Kabupaten Bandung dan Garut. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Cabang Jalan Tol Purbaleunyi, PT Jasa Marga, Setia Budi mengatakan, puncak arus mudik Lebaran di jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta-Cilunyi) diperkirakan terjadi pada H-2, Jumat, 23 Juni 2017. Sementara puncak arus balik diperkirakan H+4 pada 30 Juli 2017.

    “Peningkatan rata-rata untuk gerbang exit itu 2 persen, untuk gerbang masuk 2,46 persen. Ini membuktian aliran kendaraan akan lebih berat di arus balik,” kata dia di kantornya, Bandung, Kamis, 15 Juni 2017.

    Budi mengatakan, ada tiga gerbang tol yang diperkirakan akan padat saat arus mudik dan arus balik Lebaran ini yakni Gerbang Tol Cileunyi, Pasteur, dan Sadang. Pintu tol Cileunyi akan menjadi pintu keluar paling padat di jalan tol Purbaleunyi.

    Baca: Dishub Awasi 11 Jalur Mudik Alternatif Yogya-Jateng

    “Di gerbang Cileunyi ini puncaknya diperkiralkan hari lebaran dengan pekiraan 40 ribu sampai 42 ribu kendaraan lewat di Lebaran hari pertama,” kata dia.

    Menurut Budi, arus keluar kendaraan dari pintu tol Cileunyi akan padat saat di hari pertama Lebaran bersamaan dengan momen silaturahmi warga. “Di Cileunyi ini arus normalnya 30 ribu kendaran per hari, di hari silaturahmi ini bisa mencapai 42 ribu kendaraan. Sedangkan saat puncak arus mudinya sendiri sekitar 40 ribu kendaraan,” kata dia.

    Taksiran arus balik kendaraan saat puncak arus balik bahkan jauh lebih besar lagi. “Arus balik kendaraan sekitar 48 ribu kendaraan, lebih tinggi daripada arus silaturahmi,” kata Budi.

    Budi mengatakan, dipintu tol Cileunyi ini ada dua skenario yang akan dilakukan saat terjadi kemacetan yakni pemberlakukan kontra flow di KM151 dan membuka gerbang darurat Gerbang Tol Gedebage di KM149 dekat Stadiun Gelora Bandung Lautan Api.

    “Pintu tol Cileunyi itu KM155, kalau ini KM149 itu 6 kilometer sebelumnya,” kata dia.

    Baca: Ada 12 Titik Macet, Sumatera Barat Siapkan Jalur Mudik Alternatif

    Menurut Budi, gerbang Gedebage KM149 ini baru dioperasikan saat kepadatan kendaraan di pintu Cileunyi sudah mengulari sampai 5 kilometer. Hanya saja tidak semua kendaraan boleh lewat di Gerbang Tol Gedebage KM149.

    “Kendaraan yang dilewatkan hanya kendaraan Golongan 1 yakni sedan, minibus, dan jeep. Kalau bus besar tidak,” kata Budi.

    Lewat pintu tol KM149 itu berbelok ke kanan tembus ke Jalan Soekarno Hatta lalu menuju Bundaran Cibiru untuk menuju Cileunyi untuk terus ke Sumedang bagi kendaraan yang hendak menuju Cirebon. Sementara bagi kendaraan yang hendak menuju Tasikmalaya bisa membelok ke kanan, ke arah Sapan menuju jalan alternatif Cijapati keluar di Kadugora untuk meneruskan perjalanan menuju Garut atau Tasikmalaya.

    Sementara dua gerbang tol padat lainya yakni Pasteur dan Sadang. Budi mengatakan, kepadatan di pintu keluar Pasteur akan di urai dengan mengalihkan kendaraan keluar menghindari pintu itu dengan melewati pintu tol Baros 1, Pasir Koja, hingga pintu tol Buah Batu. Perkiraan kepadatan di Pasteur saat H1 Lebaran.

    “Saat hari silaturahmi itu bisa 36 ribu kendaraan, saat arus balik 34 ribu kendaraan,” kata dia. Sementara pintu Sadang biasanya akan penuh jika terjadi pengalihan kepadatan kendaraan dari jalan tol Cipali. “Biasanya banyak yang keluar di Sadang dan Jatiluhur.”

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.