Menteri Desa Dukung DIY Bangun Jogya Agro Techno Park

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pedesaan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, saat berkunjung ke kantor redaksi TEMPO, Jumat, 2 Juni 2017. TEMPO/Ryan Maulana

    Menteri Pedesaan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, saat berkunjung ke kantor redaksi TEMPO, Jumat, 2 Juni 2017. TEMPO/Ryan Maulana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mendukung program Jogja Agro Techno Park (JATP) yang digagas Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program tersebut dirancang untuk menjadi model desa mandiri terintegrasi yang ditargetkan selesai dalam 2 tahun.

    "Pak Sultan [Gubernur DIY] punya ide untuk membuat satu tempat percontohan yang dinamakan Jogja Agro Techno Park. Di situ benar-benar ada mulai dari pembibitannya, peternakannya, pertanian, embung, sehingga itu akan benar-benar menjadi contoh buat satu model desa-desa mandiri yang terintegrasi," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu, 14 Juni 2017.

    Eko menuturkan, JATP akan menjadi pusat pelatihan bagi desa-desa mandiri yang terintegrasi secara vertikal. Menurutnya, JATP sudah memanfaatkan teknologi yang diyakini mampu meningkatkan nilai tambah bagi desa.

    Adapun, JATP yang rencananya berlokasi di Desa Wijilan, Kabupaten Kulonprogo. Lokasi yang tidak jauh dengan area bandara juga berpotensi membuat JATP ini menjadi salah satu destinasi wisata.

    Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menuturkan JATP adalah tempat pembelajaran bagi para petani untuk mengembangkan potensinya di tanah sendiri atau secara berkelompok. Menurutnya, konsep yang diaplikasikan dalam JATP tersebut adalah pengembangan nilai baru di sektor pertanian.

    "Jadi di sini [Jogja Agro Techno Park] terjadi transformasi budaya dan memanfaatkan teknologi. Harapan saya, nanti kalau Indonesia memasuki masyarakat industri, dia sudah tidak kaget karena sudah terjadi transformasi budaya," ujarnya.

    Menurutnya, kepemilikan tanah di Yogyakarta relatif sempit membutuhkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas petani. Teknologi tersebut meliputi peralatan sarana pascapanen, benih, dan teknologi lain yang juga meliputi sektor perikanan dan peternakan.

    "Jumlah investasi kasar mencapai Rp68 miliar. Ini masih bisa bertambah, karena belum masuk training dan riset. Kalau semua pihak mendukung, akan kita bicarakan bentuk kerja samanya," terangnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.