Indonesia Tawarkan Proyek Rp 34 Triliun di Belt and Road Forum

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah alat berat mengeruk pasir di kawasan proyek reklamasi di pesisir Kolombo, Sri Lanka, 9 Agustus 2016. Di lahan ini nantinya akan dibangun sebuah pelabuhan

    Sebuah alat berat mengeruk pasir di kawasan proyek reklamasi di pesisir Kolombo, Sri Lanka, 9 Agustus 2016. Di lahan ini nantinya akan dibangun sebuah pelabuhan "Colombo Port City".REUTERS/Dinuka Liyanawatte

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana menawarkan proyek Pelabuhan Hub Internasional Bitung di Manado senilai Rp 34 triliun dalam ajang Belt and Road Forum (BRF) di Beijing, Cina yang digelar pada bulan ini.

    Akhir pekan lalu, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) memboyong konsultan pelaksana penyusunan outline business case yakni konsorsioum Mott Macdonald, Deloitte, dan HPRP Lawyers, datang langsung ke proyek Pelabuhan Hub Internasional Bitung.

    Tujuannya untuk mencari data dan temuan terkait kesiapan infrastruktur, potensi pelabuhan penunjang, dan kondisi yang ada di Pelabuhan Bitung yang akan dijadikan pelabuhan internasional. Hal itu juga bertujuan untuk memperkenalkan konsultan outline business case dengan pemangku kepentingan utama proyek PT Pelindo IV dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

    BacaPemerintah Diminta Segera Buat Peta Jalan Industri Halal

    Direktur Sektor Transportasi KPPIP Dwianto Eko mengatakan, semua temuan di lapangan berguna sebagai informasi awal tentang potensi koridor Sulut. Sesuai dengan keinginan pemerintah Pusat, kata Dwi, proyek pembangunan daerah sebaiknya dibuat dalam satu koridor dan tidak terpisah-pisah.

    "Targetnya adalah kita mendapatkan program untuk mengembangkan infrastuktur hinterland-nya. Program ini harapannya dikembangkan oleh kementerian masing-masing sebagai roadmap," ujar Dwi melalui siaran pers, Rabu, 14 Juni 2017.

    Informasi awal yang didapat tim konsultan outline business case dari kunjungan ini selanjutnya akan dibawa ke Belt and Road Forum (BRF) di Beijing, China, pertengahan Juni 2017. Sulawesi Utara bersama dengan Sumatra Utara dan Kalimantan Utara diketahui menjadi tiga provinsi yang diminati investor Cina.

    LihatPrediksi Jasa Marga: Puncak Mudik 23 Juni, Arus Balik 30 Juni

    "Peran kami [KPPIP] untuk proses ke BRF terkait dengan OBC [outline business case]. Seperti yang kamilakukan di PHI [Pelabuhan Hub INternasional] Kuala Tanjung, yakni untuk mempersiapkan proyek."

    Pelabuhan Bitung dipilih sebagai pelabuhan hub internasional di wilayah Indonesia bagian timur dengan berbagai pertimbangan seperti pertumbuhannyamemiliki potensi lebih tinggi dibanding wilayah barat.  Selain itu, dinamika logistik di wilayah Indonesia bagian timur diharapkan bertumbuh secara eksponensial.

    Di samping itu, keberadaan Pelabuhan Hub Internasional Bitung juga akan mendukung kegiatan industri di wilayah Indonesia bagian timur meliputi Ambon dan Ternate (pertanian, industri, dan pertambangan) serta Samarinda, Balikpapan, Tarakan dan Nunukan (batub ara, minyak bumi, dan kayu lapis).

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.