Pasokan Berlebih, Harga Daging Ayam dan Telur Anjlok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang memotong daging ayam di pasar tradisional Peunayung, Banda Aceh, 26 Mei 2017. Melonjaknya permintaan konsumen terhadap daging ayam pada hari terakhir Meugang, mengakibatkan harga jual daging ayam naik hingga Rp48.000 per ekor. ANTARA/Ampelsa

    Pedagang memotong daging ayam di pasar tradisional Peunayung, Banda Aceh, 26 Mei 2017. Melonjaknya permintaan konsumen terhadap daging ayam pada hari terakhir Meugang, mengakibatkan harga jual daging ayam naik hingga Rp48.000 per ekor. ANTARA/Ampelsa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan bahwa perlahan-lahan harga komoditas mulai stabil. Namun, ada satu komoditas yang harganya masih sulit dikendalikan yaitu daging ayam dan telur.

    Baca: Lebaran 2017, Peternak Prediksi Permintaan Daging Ayam Turun

    "Yang bikin saya stress itu harga daging ayam. Turunnya terlalu cepat. Telur juga, over supply dari jumlah ternak dan petelur," ujar Enggar saat dicegat di Istana Kepresidenan, Selasa, 13 Juni 2017.

    Enggar mengatakan, sulit menentukan langkah untuk mengendalikan harga daging ayam dan telur. Jika sembarang membatasi pemotongan daging ayam dan produksi telur, takut hal itu malah menimbulkan masalah di kemudian hari.

    Sebagai contoh, apabila pemotongan ayam dibatasi, maka ayam akan terus bertelur. Kalau ayam dipotong, malah daging ayamnya yang jadi berlebih di pasar.

    "Maju kena, mundur kena. Nanti sesudah Lebaran baru menentukan langkah. Intinya, terjadi deflasi, turun terus. Sempat kami berharap ada sedikit kenaikan, tapi malah turun lagi," ujar Enggar.

    Baca: Jelang Ramadan, Pedagang Khawatir Harga Telur ...

    Harga daging ayam di DKI Jakarta, saat ini, rata-rata mencapai Rp34.125 per ekor. Harga ini cukup rendah dibandingkan harga tertinggi biasanya yang mencapai level Rp45 ribu per ekor

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.