Semester II, Bank Mandiri Akan Fokus ke Kredit Korporasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk yang baru, Kartika Wirjoatmodjo memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan bersama Budi Gunadi Sadikin dan Sentot A. Sentausa di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, 21 Maret 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri

    Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk yang baru, Kartika Wirjoatmodjo memberikan keterangan pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan bersama Budi Gunadi Sadikin dan Sentot A. Sentausa di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, 21 Maret 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo optimistis kredit perseroan akan tumbuh 11-13 persen tahun ini. Untuk semester II, komposisi kredit akan lebih didorong untuk kredit korporasi dan retail. Saat ini, porsi kredit korporasi mencapai 40 persen dan kredit retail 35 persen.

    "Karena memang saat ini yang bisa menjadi lokomotif ekonomi dan pertumbuhannya tinggi adalah korporasi dan retail. Dan retail di sini seluruh produk, seperti kredit perumahan, kendaraan bermotor, kredit multiguna, dan mikro," katanya di Plaza Mandiri, Jakarta, Minggu malam, 11 Juni 2017.

    Baca: Kredit Tumbuh, Bank Mandiri Akan Naikkan Suku Bunga Deposito

    Hingga April kemarin, menurut Kartika, pertumbuhan kredit Bank Mandiri mencapai 9 persen. Bulan ini, dia memprediksi kredit perseroan bisa tumbuh melebihi 10 persen. "Mungkin tahun ini kredit tumbuh di level 10-11 persen. Pada 2018, mungkin baru bisa naik ke level 11-12 persen," tuturnya.

    Selain itu, Kartika menuturkan tren rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) sudah mulai menurun. Begitu pula dengan pencadangan, yang menurutnya menurun. "Laba kami sudah mulai balik ke level yang lebih normal, tidak seperti tahun lalu. Tahun ini semoga sudah recovery," ujarnya.

    Simak: Bank Mandiri Optimistis Kredit Tumbuh 13 Persen Tahun Ini

    Sejak 2015, kata Kartika, perusahaannya telah menerapkan sistem tiga pilar untuk memantau nasabah yang memiliki kredit. Dengan begitu, perseroan akan mengetahui lebih awal nasabah yang bermasalah. "Kemudian kami restrukturisasi. Ketika ekonomi tumbuh lagi, nasabah sudah direstrukturisasi dan bisa perform lagi," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.