IHSG Bakal Bergerak Turun Pekan Depan, Mengapa?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, 31 Maret 2017. ANTARA

    Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, 31 Maret 2017. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan akan berada pada kisaran level support 5.660-5.670 dan resisten 5.735-5.770.

    Pekan lalu, indeks bergerak di level support 5.670-5.700 dan resisten 5.765-5.800. "Harapan akan mampu bertahannya laju IHSG di zona hijau tampaknya belum terwujud di mana IHSG lebih memilih bergerak turun," kata Reza dalam risetnya pada hari ini, Minggu, 11 Juni 2017.

    Pekan lalu, IHSG cenderung melemah minus 1,17 persen atau menurun dibandingkan pekan sebelumnya yang menguat 0,45 persen. Laju IHSG sempat melampaui level tertingginya dengan berada di 5.765,83 dibandingkan pekan sebelumnya di 5.752,66 seiring kembali maraknya aksi jual.

    Di awal pekan lalu, IHSG mampu kembali melanjutkan posisinya di zona hijau. Namun, indeks hanya sesaat merangkak naik dan tidak sepenuhnya diikuti oleh volume beli. Karena itu, pasca menyentuh level tertingginya, laju IHSG cenderung bergerak melambat.

    Adapun pergerakan IHSG di pertengahan pekan lalu, menurut Reza, mengalami kenaikan meski tipis. Laju IHSG kembali mengalami penurunan seiring sikap pelaku pasar yang masih kurang yakin dengan kondisi yang ada sehingga cenderung memanfaatkan penguatan untuk kembali berjualan.

    Menurut Reza, tidak ada sentimen dalam perdagangan saham yang harus direspon negatif oleh pelaku pasar pada pekan depan. Namun, dia menuturkan, minimnya sentimen positif membuat pelaku pasar tidak mampu bertahan lama sehingga mereka lebih memilih keluar.

    Reza pun berharap aksi jual dapat lebih mereda dengan telah menurunnya IHGS dari posisi tertingginya. Dia pun berharap hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk kembali masuk. "Namun demikan, tetap cermati berbagai sentimen yang ada," ujarnya.

    Cenderung melemahnya laju bursa saham global, Reza meneruskan, dibarengi dengan kembali melemahnya laju rupiah. Selain itu, harga kontrak minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) global juga berimbas negatif pada pergerakan harga saham berbasiskan CPO.

    Adapun ergerakan rupiah yang kembali tertekan turut membuat penguatan laju IHSG tertahan meskipun saham-saham konsumer mencoba untuk menahannya. Pekan lalu, Reza menceritakan, asing mencatatkan nett sell minus Rp 7,13 miliar dari pekan sebelumnya nett buy Rp 834,82 miliar.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.