Pengamat Ungkap Penyebab Rupiah Melemah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. BNI mencatat peningkatan sebesar 100% atau 2 kali lipat pada jumlah Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang dilayani. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. BNI mencatat peningkatan sebesar 100% atau 2 kali lipat pada jumlah Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang dilayani. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta, Rabu pagi, 7 Juni 2017, melemah 15 poin menjadi Rp13.293 per dolar AS.

    Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan nilai tukar rupiah melemah menyusul respons negatif pelaku pasar uang terhadap proyeksi Bank Indonesia mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih rendah dari asumsi pemerintah.

    "Pelaku pasar merespons negatif pernyataan Gubernur Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1 sampai 5,5 persen atau lebih rendah dibandingkan asumsi pertumbuhan pemerintah sebesar 5,4 sampai 6,1 persen," katanya.

    Baca: Dolar AS Jeblok, Kurs Rupiah Naik 15 Poin

    Para pelaku pasar, menurut dia, juga sedang mencermati sentimen global terutama menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengenai kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat.

    "Di tengah antisipasi hasil kebijakan FOMC itu, pelaku pasar di dalam negeri cenderung menahan transaksinya sehingga menahan laju rupiah," katanya.

    Kendati demikian, ia mengatakan, bahwa dolar AS sedang mendapat tekanan di pasar global menjelang keputusan kebijakan bank sentral Eropa dan testimoni mantan Direktur FBI James Comey.

    Simak: Rupiah Diuntungkan dengan Pelemahan Dolar AS di Pasar Asia

    Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan pelemahan rupiah relatif sementara menyusul indeks manufaktur Indonesia pada Mei 2017 masih direspons positif oleh pasar, yakni di posisi 50,6. "Angka di atas 50 mengindikasikan masih adanya ekspansi ekonomi Indonesia," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.