Data Ekonomi Mengecewakan, Indeks Dolar Melemah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dok. TEMPO/Fransiskus S.

    Dok. TEMPO/Fransiskus S.

    TEMPO.COJakarta - Dolar Amerika Serikat bergerak melemah pada awal perdagangan, Selasa, 6 Juni 2017. Indeks dolar Amerika, yang melacak kekuatan mata uang dolar terhadap mata uang utama lain, terpantau melemah 0,13 persen atau 0,121 poin ke level 96,678 pada pukul 08.20 WIB setelah dibuka turun hanya 0,01 persen di posisi 96,790. 

    Baca: Ekspektasi Suku Bunga Fed Topang Indeks Dolar AS Menguat

    Pada perdagangan kemarin, indeks dolar Amerika ditutup menguat 0,09 persen atau 0,084 poin ke level 96,799, terlepas dari data tenaga kerja Amerika yang mengecewakan, sehingga mengurangi ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga acuan Amerika.

    Sementara itu, data yang dirilis kemarin menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika melambat pada Mei karena turunnya jumlah pesanan baru, tapi masih diimbangi oleh lonjakan lapangan kerja ke level tertinggi dua tahun.

    Terlepas dari lemahnya data ekonomi, para investor masih berspekulasi Federal Reserve tetap akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 13-14 Juni mendatang. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan peluang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin mencapai 93,6 persen.

    Masashi Murata, ahli strategi mata uang Brown Brothers Harriman, mengatakan sikap pesimistis terhadap data pekerjaan sebetulnya membebani dolar karena The Fed masih memperkirakan kenaikan suku bunga di bulan Juni.

    Baca: Data Ekonomi Mengecewakan, Indeks Dolar AS Terkoreksi

    “Namun sebagian besar pelaku pasar percaya tidak ada kenaikan lanjutan dalam waktu dekat, mungkin tidak pada September atau Desember," katanya seperti dikutip Reuters, Selasa, 6 Juni 2017.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.