Gandeng Finlandia, Pemerintah Jajaki Kerja Sama Proyek PLTS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan melihat proses pengolahan sampah yang akan menjadi energi listrik di pabrik Suzhou Wujiang Everbright Lingkungan Energy Ltd di Wujiang, provinsi Jiangsu, Cina, 8 November 2016. Tenaga listrik yang dihasilkan pabrik ini dua kali lipat dari pembangkit listrik tenaga batu bara. REUTERS/Aly Song

    Seorang karyawan melihat proses pengolahan sampah yang akan menjadi energi listrik di pabrik Suzhou Wujiang Everbright Lingkungan Energy Ltd di Wujiang, provinsi Jiangsu, Cina, 8 November 2016. Tenaga listrik yang dihasilkan pabrik ini dua kali lipat dari pembangkit listrik tenaga batu bara. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Finlandia menjajaki kerjasama di bidang pembangkit listrik tenaga sampah. Sebelumnya, Finlandia telah telah berinvestasi membangun pembangkit listrik tenaga sampah di DKI Jakarta lewat PT Jakarta Propertindo. 

    “Finlandia ingin mengeksplor potensi investasi di Indonesia, jadi menterinya datang dengan delegasi bisnis dan perusahaan Finlandia,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro selepas pertemuannya dengan delegasi Finlandia yang dipimpin Menteri Perekonomian Mika Lintilä di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Senin, 5 Juni 2017.

    Baca:  Kementerian Lanjutkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

    Bambang berujar ingin mendorong agar Finlandia bersedia mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah itu tidak hanya di Jakarta, namun juga di daerah-daerah lain di Indonesia. “Saya rasa sekarang kota-kota besar di Indonesia butuh pengolahan sampah yang jadi listrik. Itu bagus karena sampahnya ada yg ngurus dan jadi energi listrik.” kata dia.

    Baca:  MA Batalkan Perpres Pembangkit Listrik Berbasis Sampah

    Pemerintah Finlandia, kata dia, telah bersedia untuk mengembangkan berinvestasi di kota lain asalkan ada kepastian mengenai tarif listrik dan tipping fee-nya. Sebab, kedua hal tersebutlah yang sangat memengaruhi keuntungan yang bakal didapat oleh Finlandia.

    “Tipping fee itu kan biaya untuk mengumpulkan sampah. Karena itu tentunya harus dipastikan tarif listriknya nanti harus punya margin yang cukup bagus buat perusahaan,” ujarnya.

    Mengenai tipping fee, ucapnya, ditangani oleh Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral dan Kementerian Dalam Negeri. “Mudah-mudahan nanti ketika mereka ketemu Pak Jonan (Menteri ESDM) mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas dan lebih yakin,” kata dia.

    Memang, menurut Bambang harga listrik per-KWH dari pembangkit listrik tenaga sampah ini akan lebih mahal daripada pembangkit listrik tenaga batu bara atau sumber lain, namun teknologi itu bagus dalam konteks energi terbarukan. “Jadi membantu membereskan urusan sampah,” kata dia.

    Tak hanya itu, dia berujar selama ini sampah hanya dapat diolah menjadi pupuk saja yang tentu harga jualnya masih lebih rendah dibanding listrik, sehingga solusi pembangkit listrik tenaga sampah lebih unggul guna memberi nilai tambah lebih pada sampah-sampah perkotaan.

    “Jadi jangan bandingkan dengan pembangkit listrik dari batu bara atau listrik dari sumber lain, tapi bandingkan dengan pola pengelolaan sampah yang lain,” ucapnya.

    Namun, kata Bambang, sampai sekarang proses itu masih pada tahap penjajakan sehingga belum ada nominal investasi yang disepakati.

    CAESAR AKBAR | ALI HIDAYAT

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.