Realisasi Impor Sapi Bakalan Belum Penuhi Target  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Perum Bulog mulai merealisasikan impor sapi siap potong dari Australia. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Perum Bulog mulai merealisasikan impor sapi siap potong dari Australia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menuturkan realisasi impor sapi bakalan belum memenuhi target. Ia menambahkan, sampai 31 Mei 2017, izin impor sapi bakalan sudah keluar 348.945 ekor.

    "Realisasinya sampai 31 Mei 2017 baru 119.211 ekor," kata Ketut kepada Tempo saat dihubungi melalui pesan pendek, Ahad, 4 Juni 2017.

    Baca: Enggartiasto: Impor Sapi Bakalan Harus Disertai Indukan

    Ketut menuturkan, untuk membuat stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan pada Juli-Desember, Bulog perlu didorong segera merealisasikan izin impor yang telah diberikan. Juga menagih realisasi importir sapi dan daging sapi. 

    Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan tahun ini ada izin impor sapi bakalan yang diberikan dengan memperhatikan ketentuan rasio perbandingan 1:5 antara sapi indukan dan sapi bakalan yang akan diimpor.

    Baca: Harga Acuan Daging Sapi Beratkan Peternak Kecil

    Nurwan mengingatkan importir agar memperhatikan aturan ini. "Iya, nanti kan diauditnya tahun 2018. Sekarang ini diberikan kesempatan menarik napas dulu," kata Oke kepada Tempo, Ahad.

    Rasio perbandingan 1:5 ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Oke menyatakan importir yang tak menjalankan skema rasio tersebut akan dicabut izin impornya. "Ya mereka mau berlanjut atau tidak, begitu saja," ujarnya.

    Mengenai impor, Oke Nurwan menyatakan izin impor daging kerbau sudah dikeluarkan sebesar 51 ribu ton sampai Desember 2017 dan siap dimasukkan kapan saja. Sebelumnya, Bulog memasukkan 36 ribu ton daging kerbau asal India, sehingga pada tahun ini impor daging kerbau akan mencapai 87 ribu ton.

    Direktur Pengadaan Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan pada minggu ketiga Juni akan dimasukkan 5 ribu ton daging kerbau. Daging-daging ini rencananya akan didistribusikan ke Jabodetabek dan Jawa Barat. Juga ke daerah-daerah di luar itu asalkan kepala daerah mengizinkan. "Kami sudah distribusi ke Bengkulu, Jambi, dan Lampung," katanya.

    Pemasukan tersebut memang ditujukan untuk menstabilkan harga daging menjelang Idul Fitri. Tri melihat angka tersebut sangat cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, kebutuhan per hari di Jabodetabek hanya 5-6 ribu ton, sedangkan stok saat ini masih ada sekitar 33 ribu ton. "Masih sangat cukup kok," ucapnya.

    Dari data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, diketahui sampai 29 Mei 2017 posisi stok daging 57.705 ton. Ini terdiri atas sapi bakalan 62.840 ekor atau setara daging 12.505 ton, daging sapi impor 11.696 ton, juga daging kerbau dari impor yang dilakukan Bulog sebanyak 33.504 ton. Kebutuhan untuk Juni diperkirakan mencapai 54.646 ton, sehingga diperkirakan masih ada surplus 3.059 ton.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.