Harga Batu Bara Naik Tajam Setelah Dua Hari Stagnan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempo/Firman Hidayat

    Tempo/Firman Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan harga batu bara melesat pada akhir perdagangan, Selasa, 30 Mei 2017.

    Pada perdagangan Selasa, 30 Mei 2017, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup melesat 2,25 persen atau 1,60 poin di posisi US$ 72,65/metrik ton.

    Harga batu bara kontrak Januari berhasil naik tajam setelah hanya berakhir stagnan pada dua perdagangan berturut-turut sebelumnya.

    Berbanding terbalik dengan batu bara, harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, 31 Mei 2017, akibat tanda-tanda bangkitnya kembali produksi minyak mentah di Libya.

    Ada pula kekhawatiran bahwa perpanjangan upaya pemangkasan produksi oleh para negara pengekspor utama mungkin tidak akan cukup untuk menahan kelebihan suplai global. Harga minyak WTI kontrak Juli 2017 berakhir turun 0,28 persen atau 0,14 poin ke US$ 49,66 per barel, setelah dibuka dengan kenaikan 0,26 persen di posisi 49,93.

    Adapun patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Juli 2017 ditutup dengan pelemahan 0,86 persen atau 0,45 poin ke US$ 51,84, setelah dibuka turun tipis 0,08 persen atau 0,04 poin di posisi 52,25.

    Menurut National Oil Corporation, produksi minyak Libya yang sebelumnya mencapai 784.000 barel per hari (bph) karena masalah teknis di ladang Sharara, diperkirakan akan mulai meningkat menjadi 800.000 bph pada hari Selasa.

    Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam




























    Tanggal

    US$/MT

    30 Mei

    72,65

    (+2,25 persen)

    29 Mei

    71,05

    (+0,00 persen)

    26 Mei

    71,05

    (+0,00 persen)

    25 Mei

    71,05

    (-0,42 persen)

    24 Mei

    71,35

    (-0,56 persen)


    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.