Hingga Akhir 2017, Diperkirakan Harga Nikel Stagnan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja saat mengolah nikel di smelter atau peleburan nikel PT Vale Tbk, dekat Sorowako, Sulawesi (8/1). Kebijakan larangan Indonesia terhadap ekspor bijih mineral utama mempengaruhi keefektivitasan untuk berinvestasi di peleburan bahan tambang. REUTERS/Yusuf Ahmad

    Seorang pekerja saat mengolah nikel di smelter atau peleburan nikel PT Vale Tbk, dekat Sorowako, Sulawesi (8/1). Kebijakan larangan Indonesia terhadap ekspor bijih mineral utama mempengaruhi keefektivitasan untuk berinvestasi di peleburan bahan tambang. REUTERS/Yusuf Ahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga diperkirakan merosot ke area US$9.000 per ton sampai akhir 2017 akibat pertumbuhan pasokan yang melebihi volume permintaan.

    Pada penutupan perdagangan Jumat, 26 Mei 2017, di bursa London Metal Exchange (LME), harga nikel meningkat 40 poin atau 0,44 persen menjadi US$9.080 per ton. Sepanjang tahun berjalan, harga nikel merosot 9,38 persen. Adapun pada 2016, harga nikel tumbuh 13,61 persen setelah ditutup di level US$10.020 per ton.

    Analis Goldman Sachs Group Inc. Jeffery Currie dan Yubin Yu dalam risetnya menyampaikan nikel yang digunakan dalam campuran bahan stainless steel menjadi logam dengan performa terburuk sepanjang 2017.

    Tren penurunan harga diperkirakan berlanjut karena meningkatnya pasokan dari Filipina dan Indonesia. Penggulingan Gina Lopez dari jabatannya sebagai Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina memicu pengoperasian kembali sejumlah tambang.

    Sebelumnya pada awal Februari 2017, Gina menyampaikan pihaknya sudah melakukan penutupan tambang yang mencakup sekitar 50 persen dari total pasokan nikel di dalam negeri. Selain penghentian operasi, sejumlah perusahaan dikenakan suspensi ekspor.

    Menurut data Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya Alam, jumlah perusahaan yang dikenakan penyetopan operasi ialah 23 tambang. Adapun keputusan terhadap 5 tambang lainnya masih ditangguhkan.

    Filipina menyumbang sekitar 25 persen produksi nikel global, yang sebagian besar dikirim ke China. Penyidikan terhadap tambang yang diprakarsasi Gina dan Presiden Rodrigo Duterte bertujuan menegakkan standarisasi keselamatan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan harga nikel.

    Dari Indonesia, pasokan akan bertambah karena pelonggaran ekspor bijih nikel. Negeri Garuda pernah menjadi pemasok bijih nikel terbesar ke China, sebelum larangan ekspor pada 2014. Sejak adanya larangan, Filipina mengambil peran sebagai eksportir utama. "Harga akan berada di level rendah pada 2017 dan tahun berikutnya sampai para produsen bisa memangkas surplus pasokan," papar riset yang dikutip dari Bloomberg, Senin, 29 Mei 2017.

    Goldman pun memprediksi pasar nikel akan mengalami surplus pasokan sebesar 37.000 ton pada 2017 dan 100.000 ton pada 2018. Oleh karena itu, harga berpotensi stagnan di posisi US$9.000 per ton sampai akhir 2017 dan semester I/2018.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?