Puasa dan Lebaran 2017, Pertamina Tambah Pasokan Elpiji

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tabung gas elpiji ukuran 12 dan 3 Kg. TEMPO/Hariandi Hafid

    Ilustrasi tabung gas elpiji ukuran 12 dan 3 Kg. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menambah 10 persen kuota elpiji yang didistribusikan ke Provinsi Bengkulu selama bulan puasa dan Lebaran 2017.

    Sales Executive LPG Rayon Jambi dan Bengkulu Pertamina Parrama Ramadhan Amyjaya menyebutkan penambahan tersebut guna memastikan tidak adanya kendala kekosongan pasokan selama Ramadan.

    "Untuk gas ukuran 3 kilogram atau elpiji bersubsidi, kita tambah 9-10 persen dari kuota normal," katanya, Senin, 29 Mei 2017.

    BacaIndosat Ubah Susunan Pengurus Perusahaan

    Untuk elpiji nonsubsidi, tabung gas 5,5 dan 12 kilogram, akan ada penambahan 7 persen dari kuota normal. "Kalau kami perkirakan, pada Mei dan Juni, konsumsi diprediksi akan mencapai 11-12 ton elpiji per hari," ujarnya.

    Pada awal Juni 2017, kata dia, 60 ribu tabung elpiji tabung 3 kilogram akan didistribusikan ke Bengkulu. Pendistribusian selanjutnya pada 14 hari sebelum Lebaran dengan jumlah yang sama.

    SimakPuasa dan Lebaran, BI Bengkulu Siapkan Uang Emisi Baru

    Pertamina meyakini jumlah yang akan didistribusikan tersebut mampu mencukupi permintaan masyarakat Bengkulu hingga satu atau dua minggu setelah Lebaran. "Namun, jika memang kebutuhan di atas prediksi, kami tetap akan mendistribusikan tambahannya," ucapnya.

    Jika pelanggan merasa terhambat menemukan pasokan elpiji, sebaiknya, ujar Parrama, hubungi Pertamina melalui kontak pengaduan. "Bisa melalui e-mail ke pengaduan.lpgjbi@gmail.com atau pesan singkat ke 08117445000 dengan format lengkap, yang berisi nama, aduan, dan daerah atau lokasi yang dimaksud," tuturnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.