Harga CPO Turun Lebih dari 1 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelapa sawit. REUTERS/Roni Bintang

    Kelapa sawit. REUTERS/Roni Bintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) lanjut melemah pada perdagangan pagi ini, Senin, 29 Mei 2017.

    Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2017, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka turun 0,39 persen atau 10 poin di posisi 2.545 ringgit per ton.

    Baca
    Bank Dunia: Fundamental Ekonomi RI Kuat
    Sri Mulyani Yakin Ekonomi Indonesia 2017 Positif

    Pergerakannya kemudian melorot 1,21 persen atau 31 poin ke level 2.524 ringgit per ton pada pukul 10.27 WIB. Adapun pada perdagangan Jumat, 26 Mei 2017, harga CPO kontrak Agustus ditutup turun tajam 1,99 persen atau 52 poin ke level 2.555, akibat dampak pelemahan harga minyak mentah.

    “Penurunan tajam pada harga minyak mentah memberi efek negatif pada minyak kedelai dan pada gilirannya membebani kompleks minyak sawit,” kata Gnanasekar Thiagarajan, Head of Trading and Hedging Strategies, di Kaleesuwari Intercontinental seperti dikutip dari Bloomberg.

    Harga minyak mentah sempat mencatat pelemahan tajam, setelah hasil pertemuan OPEC di Wina membuat sejumlah investor kecewa. Turut menekan sawit, nilai tukar ringgit pada perdagangan Jumat ditutup menguat 0,24 persen di posisi 4,2688. Hari ini ringgit dibuka menguat 0,02 persen di posisi 4,2680 meski kemudian berbalik melemah 0,01 persen ke 4,2692 pada pukul 10.42 WIB.

    Pergerakan Harga CPO Kontrak Agustus 2017


































    Tanggal

    Level

    Perubahan

    29/5/2017

    (Pk. 10.27 WIB)

    2.524

    -1,21 persen

    26/5/2017

    2.555

    -1,99 persen

    25/5/2017

    2.607

    +1,01 persen

    24/5/2017

    2.581

    -1,38 persen

    23/5/2017

    2.617

    -1,69 persen


    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.