Menperin Ajak Pebisnis Swiss Pacu Investasi di RI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Airlangga Hartarto. TEMPO/Tony Hartawan

    Airlangga Hartarto. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak jajaran pebisnis asal Swiss meningkatkan investasinya di Indonesia. Saat ini, investasi Swiss mencakup beberapa sektor seperti kosmetik, farmasi, susu olahan, makanan dan minuman, serta permesinan.

    Airlangga menuturkan Swiss telah menyatakan berkomitmen untuk memperluas investasi di Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, investasi negara itu mencapai US$ 4,5 miliar dan pada 2015 lalu, neraca perdagangan Indonesia dengan Swiss mengalami surplus.

    “Kami telah meminta agar mereka terus ekspansi karena seiring pemerintah Indonesia mengeluarkan paket-paket kebijakan ekonomi yang dapat memudahkan untuk menjalankan bisnis,” ujar Airlangga usai bertemu Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Bauman beserta Delegasi Pengusaha Swiss di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu, 24 Mei 2017.

    Beberapa perusahaan yang hadir, di antaranya PT. Nestle Indonesia, PT. SGS Indonesia, PT. Endress Hauser Indonesia, PT. Givaudan, PT. Sandmaster Asia Indonesia, PT. Roche Indonesia, PT. Novartis Indonesia, dan PT. Syngenta Indonesia

    Menperin menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai upaya untuk menghilangkan hambatan baik dari sisi regulasi maupun produksi dari masing-masing sektor industri. “MIsalnya, pembahasan daftar negatif investasi dan mendorong tingkat kandungan lokal pada bahan baku,” tuturnya.

    Di samping itu, Indonesia-Swiss telah sepakat bekerja sama di bidang pendidikan vokasi industri yang menerapkan model Dual Vocational Education and Training (D-VET) system.

    Dalam hal ini, Kemenperin menyiapkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan industri saat ini sekaligus untuk menghadapi era Industry 4.0. Dubes Swiss menyampaikan, pihaknya mengapresiasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini.

    “Dengan kondisi yang semakin kondusif, tentu dapat menguatkan kerja sama bilateral,” ujarnya. Hal ini juga akan membuat pelaku industri Swiss turut berperan dalam pengembangan potensi ekonomi di Indonesia sehingga pertumbuhannya bisa lebih tinggi.

    Yvonne pun mengakui, Indonesia memiliki potensi pasar yang cukup menggiurkan karena dengan jumlah penduduk yang besar. “Wajar, jika banyak negara tertarik untuk menjalin kerja sama, termasuk Swiss,” ucapnya.

    Apalagi, peringkat investment grade yang diberikan S&P dipercaya akan mendongkrak aliran dana investasi asing ke Indonesia.

    “Hingga saat ini, sebanyak 150 perusahaan Swiss telah beroperasi di Indonesia dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 60.000 orang. Kami harap dapat terus menjadi mitra usaha bagi perusahaan- perusahaan di Indonesia,” ungkapnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.