Cegah Fluktuasi Harga, Jateng Gelar Gerakan Stabilisasi Pangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani bawang merah asal Brebes, Jawa Tengah. TEMPO/Muhammad Irsyam Faiz

    Petani bawang merah asal Brebes, Jawa Tengah. TEMPO/Muhammad Irsyam Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko didampingi Kepala Bulog Divisi Regional Jawa Tengah Djoni Nur Ashari meresmikan Gerakan Stabilisasi Pangan.

    Hal itu secara simbolis ditandai dengan pelepasan 22 truk boks yang siap mendistribusikan pasokan kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) keenam eks karesidenan Jawa Tengah, yaitu eks karesidenan Semarang, Pati, Surakarta Banyumas, Kedu, dan Pekalongan.

    “Hari ini Bulog meluncurkan Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP), yaitu kegiatan menjual komoditi strategis pangan seperti beras, gula pasir, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, dan daging beku dengan harga murah, tidak melebihi HET Kemendag, dan akan dijual secara langsung di titik-titik keramaian,” ujar Heru, seperti dikutip dari laman resmi Pemprov Jateng, Selasa, 23 Mei 2017.

    Sementara itu Djoni mengatakan sasaran distribusi adalah pasar, pemukiman, dan ada kerjasama dengan Rumah Pangan Kita. Harga pun sudah ditentukan oleh pemerintah sesuai dengan HET.

    Djoni mencontohkan, harga jual beras sesuai dengan kualitasnya. Ada beras yang dijual seharga Rp8.300/kg sampai dengan Rp10.000/kg, daging beku Rp78.000/kg, gula pasir Rp12.500/kg. Sementara itu, gula pasir grosir sekarung dengan ukuran 50 kg cukup Rp11.300/kg per kilo.

    “Bawang merah kering kualitas bagus Rp25.000/kg. Bawang putih maksimal kita jual Rp 38.000/kg,” ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.