Raih Rating S&P, Indonesia Siapkan Daftar Proyek Layak Investasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam pembukaan World Ocean Summit 2017 di Sofitel, Nusa Dua, 23 Februari 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam pembukaan World Ocean Summit 2017 di Sofitel, Nusa Dua, 23 Februari 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia mendapat peringkat Investment Grade dari lembaga rating S&P dan juga opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK. Menurut Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, pemerintah mulai ancang-ancang bila kedua peringkat itu memicu reaksi positif dari investor atau negara tetangga.

    "Sekarang lagi kita bikin daftar (proyek layak investasi)," ujar Luhut seusai rapat terbatas di Istana Bogor, Senin, 22 Mei 2017.

    Baca: S&P Naikkan Rating, Kepala Bappenas: Ini Peluang untuk Cari Utang

    Luhut menjelaskan, daftar proyek layak investasi dibuat untuk berjaga-jaga misalkan peringkat Investment Grade dari S&P membuat para investor berdatangan ke Indonesia. Dengan begitu, para calon investor tidak kebingungan untuk menempatkan uang mereka.

    Rencananya, rapat terkait daftar proyek layak investasi akan digelar pada hari Jumat nanti. Luhut mengklaim akan ada banyak proyek bernilai miliaran rupiah hingga dolar Amerika yang masuk dalam daftar yang akan dirapatkan itu.

    Baca: BEI: Rating S&P Dorong IHSG Pecahkan Rekor

    Beberapa proyek itu adalah proyek-proyek terintegrasi yang berada di Bitung, Kalimantan Utara, dan Sumatera Utara. Misalnya, rel kereta api yang terghubungan dengan jalan raya, industrial state, dan properti lainnya.

    "Di Kalimantan Utara juga ada proyek Hydropower-nya. Hydropower (pembangkit listrik tenaga air) kan listrik murah. Di China, listrik (Hydropower) itu 12 sen per KWH, sedangkan di sini bisa 4 sen per KWH kalau air," ujarnya.

    Terkait asal investasi, Luhut mengaku tidak menutup peluang siapapun. "Macam-macam. Kita dengan Jepang bagaimana, Timur Tengah bagaimana, Tiongkok bagaimana," ujarnya.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.