Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta, 1 November 2016. ANTARA FOTO

    Ekspresi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta, 1 November 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia mempertahankan BI 7 day reverse repo rate sebesar 4,75 persen. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan hal ini diputuskan dalam rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diadakan 17-18 Mei 2017.

    "Kami memutuskan mempertahankan BI 7 day RR Rate dan akan berlaku efektif sejak 19 Mei 2017," kata Agus Martowardojo saat ditemui di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Mei 2017.

    Baca: Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen

    Agus Marto menuturkan suku bunga acuan dipertahankan dengan suku bunga deposit facility tetap 4 persen dan lending facility tetap sebesar 5,5 persen. Keputusan ini diambil karena sejalan dengan upaya BI menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong pemulihan perekonomian domestik.

    Baca: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan

    Meski begitu, Agus Marto menyatakan pihaknya tetap mewaspadai sejumlah resiko, baik yang berasal dari situasi global dan juga domestik. Di sisi global, Agus mewaspadai perkembangan kebijakan Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik Semenanjung Korea.

    Selain itu risiko global yang perlu diwaspadai juga adalah kenaikan Fed Fund Rate, kebijakan fiskal dan perdagangan serta penurunan besaran neraca Bank Sentral Amerika Serikat. "Waspadai tahun ini Fed Fund Rate akan tiga kali naik, penurunan neraca dilakukan akhir 2017 tapi bisa dipercepat," ujar Agus Marto.

    Sedangkan dari sisi domestik, Agus melihat risiko yang perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

    Oleh karena itu, Bank Indonesia disebutkan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makro prudensial dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. "BI juga terus mempererat koordinasi dengan pemerintah," tutur Agus.

    Agus mengungkapkan koordinasi ini dalam rangka mengendalikan inflasi agar tetap berada di kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.