Bank Mayapada Raup Laba Bersih Rp 820,19 Triliun di 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Mayapada Internasional Tbk meraup laba bersih Rp 820,19 triliun selama 2016. Angka itu tumbuh 25,73 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

    Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi mengatakan pertumbuhan perusahaan sepanjang tahun lalu cukup baik. Hal ini juga terlihat dari aset perusahaan yang naik 29 persen atau Rp 60,84 triliun. “Kami optimistis 2017 bisa lebih baik lagi," katanya saat ditemui di Mayapada Tower II, Jakarta, Rabu, 17 Mei 2017.

    Hariyono menjelaskan, pertumbuhan Bank Mayapada masih didorong pemberian kredit. Bahkan pertumbuhan aset pada 2016 pun disebabkan pemberian kredit untuk perdagangan, baik kepada korporasi maupun pelaku usaha kecil dan menengah.

    Adapun non-performing loan (NPL) atau kredit seret pada 2016 juga mengalami kenaikan 0,41 persen secara year on year atau 2,11 persen. Sementara penyaluran kredit tumbuh 37,84 persen year on year, yakni Rp 47,19 triliun, dan dana pihak ketiga tumbuh 25,32 persen secara year on year, yaitu Rp 51,64 triliun.

    Mengenai pemberian kredit, Hariyono menuturkan selalu memberikan kredit berdasarkan prinsip kehati-hatian. Dia menambahkan, hal ini terbukti dari angka NPL perusahaan yang berada di kisaran itu-itu saja. "Tak pernah lari ke mana-mana. Kurang lebih di situ saja,” ujarnya.

    Dalam RUPS Bank Mayapada diputuskan perusahaan mencadangkan 2,44 persen dari laba bersih 2016 sebesar Rp 20 miliar. Selain itu, Bank Mayapada akan membagi dividen 24 persen dari laba bersih 2016 sebesar Rp 40 per saham, yaitu Rp 196,77 miliar. Sedangkan sisa laba bersih Rp 603,41 miliar dicatatkan sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?