Sentuh Level Tertinggi, Euro di Atas Level 1,1 Terhadap Dolar AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung mata uang Eropa, Euro, di depan Bank Sentral Eropa (ECB), Frankfurt, Jerman, September 2007 silam. AP/Bernd Kammerer

    Patung mata uang Eropa, Euro, di depan Bank Sentral Eropa (ECB), Frankfurt, Jerman, September 2007 silam. AP/Bernd Kammerer

    TEMPO.CO, Jakarta - Mata uang euro menyentuh kembali menyentuh level tertingginya tahun ini di atas level 1,1 terhadap dolar AS hari ini, Rabu, 17 Mei 2017.

    Nilai tukar euro terhadap dolar AS menguat 0,30 persen ke level US$ 1,11156 per euro pada pukul 11.00 WIB, setelah dibuka pada level US$ 1,1083 per euro.

    Penguatan ini terjadi setelah dolar AS melemah pasca-rilis data perumahan AS yang lebih rendah dari perkiraan yang lebih lemah dari perkiraan, menambah serangkaian data ekonomi yang mengecewakan.

    Walaupun dolar sempat pulih setelah data menunjukkan produksi manufaktur AS mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir, minat investor terhadap greenback kembali memburuk pada perdagangan selanjutnya.

    Baca
    Rumah DP 0 Persen, Dirjen PUPR: Apa Yang Salah?
    Tempo Inti Media Tbk Akan Lakukan Right Issue
    Stok Jepang Merosot, Harga Karet Lanjutkan Reli di Hari Keenam
    PT INTI Garap PLTS Di Empat Provinsi

    Sementara itu, data yang dirilis menunjukkan ekonomi zona euro tumbuh 1,7 persen pada kuartal pertama 2017 dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year), sejalan dengan ekspektasi analis.

    Kemenangan Emmanuel Macron dalam pemilihan presiden Prancis dan meningkatnya ekspektasi integrasi Eropa juga turut memberikan sentimen positif pada euro, kata para analis.

    Boris Schlossberg, managing director analis mata uang BK Asset Management, mengatakan aksi jual dolar sepertinya akan berlanjut mengingat potensi dampak politik lanjutan terkait laporan bahwa Trump mengungkapkan informasi rahasia kepada pejabat Rusia pekan lalu.

    "Sepertinya secara progresif setiap hari gejolak politik meningkat, dan pada akhirnya volatilitas tersebut berpengaruh ke dalam gejolak ekonomi," kata Schlossberg, seperti dikutip Reuters.

    Kekhawatiran investor meningkat bahwa Trump mungkin tidak akan menghabiskan masa jabatannya. Bahkan jika ia bertahan, akan ada terlalu banyak gangguan politik yang tentunya akan menghambat program stimulus ekonominya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!