Punya 840 Danau, Kemenpar Upayakan Penyebaran Wisatawan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Danau Matano dilihat dari atas bukit yang mengelilingi danau terdalam di Indonesia di Desa Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, 6 Oktober 2016. Dengan kedalaman 590 meter, Danau Matano tercatat sebagai danau terdalam di Indonesia dan di Asia Tenggara. TEMPO/Fardi Bestari

    Danau Matano dilihat dari atas bukit yang mengelilingi danau terdalam di Indonesia di Desa Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, 6 Oktober 2016. Dengan kedalaman 590 meter, Danau Matano tercatat sebagai danau terdalam di Indonesia dan di Asia Tenggara. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata kembali menekankan pentingnya pengelolaan danau untuk meningkatkan perekonomian warga melalui pariwisata.

    Sebagaimana diketahui, sejumlah persoalan pengelolaan danau seringkali menghambat pengembangan danau sebagai entitas ekonomi misalnya karamba, enceng gondok, dan penurunan debit air.

    “Danau sebagai suatu destinasi wisata alam [nature] perlu dijaga dengan baik. Karena, semakin dilestarikan semakin menyejahterakan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengutip keterangan resminya, Selasa, 16 Mei 2017.

    Dalam kesempatan itu, Arief membahas solusi kebijakan terkait pengelolaan danau yang meliputi sisi perencanaan, kelembagaan, hingga regulasi.

    Kesempatan Indonesia memaksimalkan danau untuk mendongkrak perekonomian melalui pariwisata terbuka sangat lebar. Indonesia memiliki 840 danau dengan total luas mencapai 7.103 kilometer persegi.

    Danau berfungsi sebagai sumber daya produktif, baik sebagai sumber air (baku) maupun untuk pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi lainnya. Saat ini, pemanfaatan ekosistem danau di Indonesia semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang semakin berkembang.

    Namun, mengelola danau bukan tanpa kendala. Belum maksimalnya sinergi pengelolaan danau antarinstansi, antarprogram, serta antarpemangku kepentingan menambah kompleksitas permasalahan

    “Untuk itu, dalam pengelolaan danau haruslah single management. Sama dengan Badan Otorita Pariwisata (BOP) yang single management agar kewenangannya jelas dan bisa tegas,” tekannya.

    Secara khusus, Arief membahas tentang Danau Toba di Sumatera Utara. Kemenpar memang sudah menjadikan Danau Toba sebagai satu dari sepuluh Bali Baru.

    Sembilan destinasi lainnya adalah Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

    Arief lantas menjadikan danau di Hangzhou, Tiongkok sebagai benchmarking pengelolaan Danau Toba. Hangzhou memiliki Danau Xi Hu atau West Lake yang sangat terkenal. Pada 2015 lalu, danau yang dikenal dengan cerita Sampek Eng Tai dan legenda Ular Putih itu didatangi 120 juta wisatawan domestik dan tiga juga wisatawan mancanegara.

    Menurut Arief, Dana Toba memiliki potensi menjadi world class tourism destination. Sebab, Danau Toba merupakan danau terdalam di dunia.

    Danau Toba juga danau vulkanik terbesar di dunia. Selain itu, Danau Toba juga danau terbesar kedua setelah Victoria Lake di Afrika.

    “Pengaturan kunjungan wisatawan ke danau di Hangzhou sudah luar biasa. Aspek 3A [atraksi, akses, dan amenitas] juga telah terintegrasi dengan baik,” ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.