Pertumbuhan Ekspor Minyak Sawit Disebabkan Eropa Masih Butuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menata buah kelapa sawit hasil panen di perkebunan Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Minggu (4/12). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    Petani menata buah kelapa sawit hasil panen di perkebunan Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Minggu (4/12). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor minyak sawit Indonesia ke Eropa mencatatkan kenaikan 27 persen atau dari 352.020 ton di Februari 2017 meningkat menjadi 446.920 ribu ton pada Maret 2017.

    Ketua Umum GAPKI Fadhil Hasan menilai pertumbuhan itu akibat negara Eropa tetap membutuhkan produk minyak sawit. Hal itu terkait penggunaan dalam proses produksi di industri maupun rumah tangga.

    “Eropa sangat tergantung pada minyak sawit karena harganya yang murah dibandingkan jika menggantikan dengan sumber dari minyak nabati lain,” ujar Fadhil dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu, 10 Mei 2017.

    Dia menambahkan bahwa pertumbuhan permintaan tersebut menjadi indikator bahwa komoditas itu masih menjadi kebutuhan dunia. Peningkatan populasi mendorong bertambahnya  konsumsi minyak nabati.

    Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menyatakan akan terus memperkuat diplomasi produk sawit Indonesia di dunia. Pemerintah telah melakukan kunjungan kerja ke Prancis untuk memasarkan komoditas itu melalui pameran internasional Salon International dede l’Agriculture dan The French Alliance for Sustainable Palm Oil (Aliansi Prancis).

    Kemendag menyebut Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit bersertifikasi di dunia. Jumlah produksinya mencapai 6,5 juta ton atau 52 persen dari total produksi minyak sawit bersertifikasi global sebesar 12,65 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$16,29 miliar pada 2016.

    Pemerintah juga telah meminta kepada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk menyusun rencana spesifik peningkatan kinerja ekspor kelapa sawit. Selain itu, mereka juga diminta berperan secara proaktif, komunikatif, inovatif, dan promotif dalam menarasikan sawit Indonesia kepada seluruh pemangku kepentingan di wilayahnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).