Ekonomi Tumbuh, Darmin Ingatkan Konsumsi Masyarakat Melemah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, 18 Maret 2016. Sumbangan belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 11%-12%. TEMPO/Tony Hartawan

    Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, 18 Maret 2016. Sumbangan belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 11%-12%. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun ini mencapai 5,01 persen, lebih tinggi daripada kuartal I 2016 yang sebesar 4,92 persen.

    Baca: Jokowi Klarifikasi Tuduhan Salah Klaim Soal Pertumbuhan Ekonomi

    Namun Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan capaian ini belum maksimal, mengingat tingkat konsumsi masyarakat melambat dari 4,97 persen menjadi 4,93 persen. “Kami berharap lebih dari itu, karena terjadi kenaikan ekspor dan kenaikan harga komoditas perkebunan,” kata Darmin di kantornya, Jumat, 6 Mei 2017.

    Baca: Ekonomi Tumbuh 5,01 Persen, Ekonom: Triwulan III dan IV Membaik

    Darmin mengatakan tren membaiknya investasi swasta dan perdagangan internasional bisa dipertahankan, sembari menunggu pemulihan konsumsi masyarakat. Dia yakin pemulihan konsumsi yang biasanya menyumbang 50 persen komponen pertumbuhan ekonomi bakal terlihat pada kuartal berikutnya.

    Deputi Bidang Neraca Analisis Statistik BPS, Sri Soelistyowati, mengatakan melambatnya konsumsi terjadi lantaran gaji yang diterima masyarakat naik. Karena ekspektasi gaji rendah, masyarakat menahan konsumsi. “Pegawai negeri tak naik gaji, begitu juga upah riil buruh tani turun 0,53 persen, efeknya cukup besar untuk konsumsi,” kata Sri.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan melambatnya konsumsi bisa diredam oleh komponen pertumbuhan lainnya. Salah satunya pembentukan modal tetap bruto yang tumbuh 4,81 persen menjadi 31,56 persen. Ekspor dan impor pun tumbuh masing-masing 8 persen dan 5 persen. Adapun pemilihan kepala daerah dan libur tahun baru mengerek konsumsi lembaga nonprofit sebesar 5,02 persen. Sebaliknya, komponen belanja negara menjadi faktor penghambat pertumbuhan lantaran melambat menjadi 2,71 persen.

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara meminta pemerintah memperhatikan industri pengolahan, yang hanya tumbuh 4,21 persen. Sebab, industri pengelolaan bisa juga jadi motor penggerak ekonomi di luar Jawa yang masih mengandalkan komoditas perkebunan, yang rentan gejolak harga.

    Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus melaksanakan kebijakan yang berorientasi pemerataan, seperti reformasi agraria dan redistribusi aset. “Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat terdistribusi ke seluruh kalangan,” ujar dia.

    ANDI IBNU | DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.