Ekonomi Indonesia Triwulan I-2017 Tumbuh 5,01 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto (tengah) menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, 7 November 2016. Tempo/Fajar Pebrianto

    Ketua Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto (tengah) menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, 7 November 2016. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2017 tumbuh 5,01 persen (yoy), lebih baik ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.

    "Pertumbuhan ini lebih tinggi dari triwulan IV-2016 dan triwulan I-2016, jadi mudah-mudahan ke depan pertumbuhan bisa meningkat lebih tinggi lagi," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Jumat, 5 Mei 2017.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada 27 April lalu menyatakan dirinya yakin ekonomi Indonesia sepanjang triwulan pertama tahun 2017 bisa tumbuh mendekati 5,1 persen (tahun ke tahun).

    Baca
    Jokowi: Negara Lain Gunakan Iptek, Indonesia Masih Urusi Cantrang
    Bos Japfa Sindir Meteri Pertanian Tak Pernah Datang ke Greenfields
    Antisipasi Aksi Damai 505, KAI Rekayasa Keberangkatan 16 Kereta

    Stimulus tambahan bagi pergerakan ekonomi awal tahun ini, menurut dia, antara lain perbaikan kinerja ekspor, di antaranya dengan kenaikan harga komoditas minyak sawit mentah dan karet. Ia yakin kenaikan harga minyak sawit mentah bisa menggenjot pendapatan dan konsumsi masyarakat, khususnya di daerah penghasil komoditas seperti Kalimantan dan Sumatera.

    "Kuartal I berapa? Kalau BI bilang 4,99 persen pertumbuhannya. Rasanya bisa dekati 5,1 persen," katanya dalam peluncuran Buku Laporan Perekonomian Indonesia.

    Selain itu, kata Darmin, faktor siklus musim panen yang sudah bergeser ke triwulan I pada tahun ini dari triwulan II pada tahun lalu akan turut mendongkrak pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). "Faktor-faktor seperti itu, kenaikan harga sawit dan juga pergeseran musim panen kerap tidak masuk model perhitungan," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.