Kantor Cabang Bank Mandiri di Malaysia Bakal Beroperasi Tahun Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Mandiri. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Bank Mandiri. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk menargetkan kantor cabangnya dapat beroperasi secara penuh di Malaysia pada tahun ini. Beroperasinya cabang Bank Mandiri mendapat respons dari Bank Negara Malaysia (BNM) untuk status "Qualified ASEAN Bank" (QAB).

    "Kami sudah dapat tanggapan dari otoritas di sana, targetnya tahun ini bisa jalan," kata Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiaman A. Arianto di Gedung Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017.

    Sulaiman mengatakan pendirian kantor cabang penuh di Malaysia tidak akan menunggu pembentukan induk usaha BUMN (holding) perbankan. Saat ini, Bank Mandiri hanya tinggal menyelesaikan syarat dari BNM dan kelengkapan administrasi untuk pendirian kantor cabang.

    "Kami masih nunggu dari otoritarisai keuangan setempat. Kenapa kami masih menunggu, karena policy (kebijakan) di luar ini, lebih ke bank masing-masing," ujar dia.

    Pada tahun ini, Mandiri berencana pula untuk berekspansi ke Filipina. Opsi perluasan bisnis di Filipina adalah mengakuisisi perusahaan setempat, atau mendirikan perusahaan gabungan (joint venture) untuk mengoptimalkan pasar yang sudah ada.

    Namun, kata Sulaiman, Mandiri masih mempertimbangkan opsi terbaik. Realisasi ekspansi ke Filipina juga, ujarnya, kecil kemungkinan untuk tahun ini. "Tahun ini targetnya Malaysia. Prinsipnya kita ingin perkuat pasar domestik namun tetap merambah global," katanya.

    Pada Rencana Bisnis Bank (RBB) Mandiri 2017, emiten bersandi BMRI tersebut menganggarkan belanja anorganik (belanja di luar inti bisnis) sebesar Rp 2,5 triliun hingga Rp 4 triliun. Belanja anorganik tersebut mencakup ekspansi cabang dan suntikan modal anak usaha.

    Saat ini aset Bank Mandiri sudah terkumpul Rp 1.034,7 triliun. Tahun ini, selain pertumbuhan anorganik, Mandiri juga tengah berusaha mengembalikan tren positif kinerja, setelah pada 2016, laba perseroan turun 32,1 persen menjadi Rp 13,81 triliun.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).