Seminar di UI, Menteri Rini Pamer Prestasi Perusahaan Pelat Merah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Wiranto dan Menteri BUMN Rini Soemarno sebelum rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 6 Februari 2017. TEMPO/Subekti.

    Menko Polhukam Wiranto dan Menteri BUMN Rini Soemarno sebelum rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 6 Februari 2017. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno membeberkan sejumlah prestasi kementeriannya saat membuka seminar 'Kinerja dan Strategi BUMN' yang diadakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia. Dengan tantangan ekonomi modern, Rini menyebut BUMN Indonesia memiliki kinerja bisnis positif pada 2016.

    "BUMN memegang amanat ganda, yaitu sebagai pencipta nilai yang menyumbang pendapatan ke negara, dan pemegang agenda pembangunan sebagai perpanjangan tangan negara di masyarakat," ujar Rini dalam kegiatan yang diadakan di Aula Fakultas Kedokteran UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Mei 2017.

    Baca: 25 BUMN Merugi di Triwulan I 2017, Menteri Rini: Itu Biasa  

    Dengan adanya 118 BUMN dan 25 anak perusahaan eks BUMN saat ini, kata Rini, sudah tersedia lapangan kerja untuk lebih dari satu juta orang. Dia menyebut belanja modal BUMN pada 2016 mencapai Rp 298 triliun, atau naik 35 persen dari tahun sebelumnya. "Fokus belanja itu pada infrastruktur, energi, dan konektivitas," ujar Rini.

    Baca: Apa Alasan Menteri Rini Pilih Pahala Mansury Pimpin Garuda?  

    Hal itu sejalan dengan pertumbuhan aset hingga 10 persen dengan total nilai Rp 6.325 triliun. Adapun ekuitas yang mencerminkan nilai investasi permanen pemerintah tumbuh 12 persen pada 2016, dengan nilai mencapai Rp 2.234 triliun.

    "Kontribusi BUMN pada negara mencapai Rp 202 triliun dalam bentuk dividen dan pajak, dan itu belum termasuk pendapatan negara bukan pajak," ujar Rini dalam paparannya.

    Kata Rini, peran BUMN sebagai agen pembangunan pun berjalan positif. Peran itu mendukung rencana pemerintah meningkatkan konektivitas antar wilayah di nusantara. "Ada penambahan pelabuhan penyeberangan, rute pelayaran, dan jumlah kapal," kata dia.

    Pengiriman ke negara penerima ekspor dari Indonesia pun mulai dilakukan langsung dari wilayah Timur. Koneksi itu diyakini mendukung pembangunan ekonomi di wilayah timur Indonesia.

    "Dari Makassar tadinya per minggu hanya (dikirim) 200 kontainer sekarang bisa mencapai 4000," tutur Rini.

    Ada pula pencapaian BUMN terkait pembangunan tol, yang di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo ditargetkan bertambah hingga 1260 kilometer. Bidang lain terkait dengan pembangunan tenaga listrik dan rumah kreatif untuk mendukung pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UKM).

    "Keberlanjutan BUMN adalah dengan pengelolaan transparan dan menggunakan hati. Kita harus lihat kiri kanan, yang kurang mampu jangan kita gerus, tapi kita ajak berusaha," ujar Rini.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.