Harga Emas Berjangka Menguat Tipis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi emas batangan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi emas batangan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga emas dalam kontrak berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir sedikit lebih tinggi pada Selasa waktu setempat atau Rabu pagi WIB, 3 Mei 2017. Sedangkan para investor menunggu hasil pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat.

    Harga emas dalam kontrak paling aktif untuk pengiriman Juni meningkat US$ 1,5 atau 0,12 persen menjadi menetap di US$ 1.257 per ounce.

    Harga emas dalam kontrak berjangka mengalami pemulihan kecil pada Selasa, 2 Mei 2017, menyusul penurunan mendalam pada hari sebelumnya sebagai respons terhadap perkiraan awal pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil 4,3 persen pada kuartal kedua 2017 yang dikeluarkan Federal Reserve Bank of Atlanta.

    Menurut beberapa analis, kenaikan yang signifikan dalam pertumbuhan PDB dapat mendorong laju kenaikan suku bunga di waktu mendatang, sementara para investor Wall Street memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunganya tak berubah.

    Kenaikan harga emas berjangka pada Selasa, 2 Mei 2017, terbatas karena Dow Jones Industrial Average Amerika terus meningkat hingga 31,10 poin atau 0,15 persen pada pukul 18.25 GMT.

    Para analis mencatat, ketika ekuitas mendapat keuntungan, maka harga logam mulia biasanya jatuh.

    Semua mata sekarang berfokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve. yang dimulai Selasa, 2 Mei 2017. Pengumuman hasil pertemuan itu menurut perkiraan diumumkan pada Rabu sore, 3 Mei 2017, waktu setempat.

    Jika terjadi kenaikan suku bunga, dolar Amerika akan mendapatkan dorongan dan emas berjangka akan turun. Sebab, menurut warta kantor berita Xinhua, logam mulia yang diukur dengan dolar Amerika menjadi lebih mahal bagi para investor.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.