Cerita Pertemuan Jokowi dan Investor Li Ka-shing di Hong Kong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berbicara kepada media di Istana Malacanang di Manila, Filipina, 28 April 2017. Filipina menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-30. AP/Bullit Marquez

    Presiden Jokowi berbicara kepada media di Istana Malacanang di Manila, Filipina, 28 April 2017. Filipina menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-30. AP/Bullit Marquez

    TEMPO.COHong Kong - Presiden Joko Widodo menemui investor potensial di Hong Kong, yaitu Li Ka-shing, pemilik CK Hutchison Holdings Limited. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Li Ka-shing berlangsung di Hotel Conrad, Hong Kong, Senin pagi, 1 Mei 2017.

    CK Hutchison Holdings merupakan salah satu perusahaan operator terminal kontainer terbesar di dunia yang telah berinvestasi di Indonesia sebesar US$ 10 miliar. Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi, yang mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan.

    "CK Hutchison Holdings Limited merupakan salah satu perusahaan terbesar yang terdaftar pada bursa saham Hong Kong," ujar Retno. Lebih lanjut Retno menjelaskan bahwa CK Hutchison Holdings Limited memandang Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi luar biasa.

    Li Ka-shing menyatakan komitmen terus meningkatkan nilai investasi perusahaannya di Indonesia. "Terdapat komitmen untuk meningkatkan investasi di Indonesia," ucap Retno sembari menambahkan, Jokowi menjelaskan sejumlah rencana pemerintah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

    "Reformasi ekonomi Indonesia menjadi salah satu topik yang disinggung oleh Presiden. Presiden juga menjelaskan rencana pembangunan infrastruktur di Indonesia," ujarnya.

    Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi juga didampingi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong.

    Saat bertemu dengan para pebisnis Hong Kong, Presiden Jokowi juga menjelaskan sejumlah upaya reformasi ekonomi. Saat mulai menjabat presiden pada Oktober 2014, misalnya, dia mengurangi dan merealokasi subsidi bahan bakar minyak. Subsidi sebesar 80 persen dialihkan ke hal-hal lain yang dirasakan lebih bermanfaat. 

    "Ini nilainya sekitar US$ 15 miliar per tahun fiskal, untuk kemudian kami alokasikan ke layanan kesehatan, pendidikan, dan utamanya pembangunan infrastruktur," kata Jokowi.

    ANTARA | AMIRULLAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.