Tren Meningkat, OJK Catat Pertumbuhan Kredit 9,2 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D. Hadad saat memberi sambutan dalam acara Ngobrol@Tempo di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 17 November 2016. Tempo/Ilham Fikri

    Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D. Hadad saat memberi sambutan dalam acara Ngobrol@Tempo di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 17 November 2016. Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan kredit hingga Maret 2017 berada di level 9,2 persen (year on year). Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar 8,7 persen.

    "Kredit sudah menggeliat sejak awal 2017, kalau tahun lalu baru menggeliat pada pertengahan tahun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 27 April 2017.

    Baca: OJK Gandeng Perbankan Kucurkan Kredit di Sektor Pangan

    Muliaman mengatakan tren pertumbuhan kredit yang meningkat itu disebabkan oleh berbagai kegiatan usaha dan intermediasi perbankan yang sudah berjalan. Hal ini disebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi sistem keuangan nasional dalam keadaan normal dan stabil.

    Baca: Rasio Kredit 22 Bank di Atas 5 Persen, Kata OJK Bermasalah

    Menurut dia, pasca pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty akhir Maret lalu, likuiditas perbankan membaik. "Kami masih optimistis bahwa pertumbuhan kredit dengan target range 9-12 persen masih bisa tercapai," katanya. Berdasarkan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan juga dinilai masih cukup solid yaitu sebesar 23 persen.

    Selanjutnya, OJK mencatat rasio kredit macet (NPL) perbankan pada Maret 2017 telah membaik menjadi 3,04 persen(year on year) dari Februari 2017 sebesar 3,16 persen. "Seiring dengan pertumbuhan kredit yang terus maju, NPL akan terus menurun secara bertahap," ucapnya.

    Muliaman menuturkan hal itu disebabkan oleh aksi restrukturisasi dan penghapusan buku yang banyak dilakukan oleh perbankan pada akhir tahun lalu, karena cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dimiliki perbankan sangat mencukupi.

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo menuturkan, likuiditas perbankan secara umum pada awal 2017 baik, yaitu terlihat dari dana pihak ketiga yang terjaga di level 10,04 persen pada Januari 2017 atau naik dari akhir tahun lalu 9,6 persen, walaupun pada akhir Februari 2017 sempat menurun hingga 9,2 persen. "Tren peningkatan likuiditas masih berlanjut," katanya.

    Agus menambahkan pertumbuhan kredit walaupun masih berjalan perlahan, namun sudah membaik dibandingman tahun lalu. Dia mengingatkan perbankan agar tetap berhati-hati karena kecenderungan rasio kredit bermasalah secara gross masih berada di kisaran 3 persen. "Jadi mereka banyak yang berhati-hati."

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.