Asosiasi Ingatkan Harga Cabai dari Petani Bakal Turun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pedagang tengah memilih cabai rawit yang baru turun di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, 7 Maret 2017. Harga cabai rawit merah di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai sebesar Rp 150.000 per kilogram hal tersebut menjadi harga cabai rawit merah termahal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Para pedagang tengah memilih cabai rawit yang baru turun di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, 7 Maret 2017. Harga cabai rawit merah di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai sebesar Rp 150.000 per kilogram hal tersebut menjadi harga cabai rawit merah termahal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah diminta mewaspadai harga cabai di tingkat petani yang terus turun karena kelebihan pasokan.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Abdul Hamid mengkhawatirkan terjadi pergeseran tanam dari cabai keriting ke cabai rawit merah karena harga yang sempat tinggi. Bahkan di Jawa Timur, area tanam sudah mencapai 2.000 hektare.

    "Dari pengalaman kami, kalau sudah lebih dari 2.000 ha, maka dikhawatirkan harga di tingkat petani akan turun pada bulan kelima sampai bulan ketujuh," tuturnya dalam diskusi Strategi Kendalikan Pasokan dan Harga Cabai: Prediksi Hari Raya di Jakarta, Rabu, 26 April 2017.

    Direktur Pengembangan Agribisnis Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia Soekam Parwadi menyampaikan kekhawatiran serupa. Pasokan berlebih mulai dirasakan sejak Maret kemarin. Sementara, belum ada teknologi penyimpanan untuk cabai yang bersifat mudah rusak.

    Baca
    Batas Waktu Penyampaian SPT WP Badan Tidak Diperpanjang
    Ekonom Sebut Posisi Utang Indonesia Masih Aman

    Dia menyebut harga cabai merah keriting di tingkat petani sebesar Rp9.000 per kg, di bawah biaya produksi Rp10.000 per kg. Menurutnya, saat ini petani mau bertahan karena berharap harga akan kembali pulih. "Mestinya perlu penanganan agar tidak semua produk segar masuk ke pasar induk," tutur Soekam.

    Perum Bulog sebenarnya pernah mengeluarkan Cabai Bubuk Kita pada , untuk menyiasati ketika pasokan melimpah. Namun, selera masyarakat yang masih bertumpu pada cabai segar, sehingga Cabai Bubuk Kita kurang diminati.

    Sebagai solusi jangka pendek, Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mendorong petani memperbaiki manajemen tanam, seperti menentukan luas tanam hingga kapan waktu tanam. Dengan demikian, tidak akan terjadi panen serempak yang berakibat pada pasokan berlebih.

    Dalam jangka panjang, Kementerian Pertanian mengusulkan agar ditentukan HET untuk cabai. Dengan demikian memberi kepastian harga pada petani dan konsumen. Namun demikian, penentuan HET masih harus menunggu rapat koordinasi di tingkat Kemenkoperekonomian.

    Soal HET, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Karyawan Gunarso mengingatkan bahwa penerapan HET akan berdampak pada penyiapan anggaran dari APBN untuk stabilisasi. Bulog menyiapkan Rp 2,5 triliun dari APBN untuk 258.000 ton beras sebagai cadangan beras pemerintah. "Kalau ditambah dengan daging, kedelai, cabai, maka akan berapa anggaran yang disiapkan sebagai konsekuensinya," katanya.

    BISNIS.COM

    Batas Waktu Penyampaian SPT WP Badan Tidak Diperpanjang


    10

    Ekonom Sebut Posisi Utang Indonesia Masih Aman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?