Jokowi Sebut Pengusaha Indonesia Kurang Inovatif, Kenapa?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi). REUTERS/Beawiharta

    Presiden Joko Widodo (Jokowi). REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo berharap Indonesia segera berbenah dalam mengembangkan teknologi supaya tidak tertinggal dari negara lain. Indonesia, menurut Jokowi, dianggap masih terlalu konservatif dan kurang fantastis dalam pengembangan teknologi.

    "Lihat Elon Musk. Dia sudah memikirkan Hyperloop, Space X," katanya saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, 26 April 2017. "Cari di Google kalau belum ngerti. Pikirkan masa depan yang fantastis."

    Jokowi membandingkan Indonesia dengan negara lain yang sudah memikirkan perjalanan ke angkasa. Saat ini, Indonesia masih memikirkan jalan ke pelabuhan.

    Baca: Ketika Presiden Jokowi Membahas Pengembangan Teknologi Digital

    Musk merupakan pengusaha sekaligus inventor asal Afrika Selatan. Ia menciptakan perusahaan-perusahaan teknologi, seperti Space X, Neuralink, Tesla, OpenAI, SolarCity, hingga PayPal. Forbes menyebutkan Musk sebagai satu dari figur paling berpengaruh dan berkuasa di bidang teknologi.

    Space X, salah satu perusahaan Musk, memiliki target menciptakan transportasi luar angkasa dan kolonisasi Mars. Neuralink, perusahaan yang baru Musk buat, yang bergerak dalam pengembangan teknologi neuron berupa komputer implan untuk otak manusia.

    Jokowi mencontohkan nama lain, Jack Ma, sang penemu perusahaan e-commerce bernama Ali Baba. Ali Baba sudah mengakuisisi e-commerce Indonesia, Lazada.

    Baca pula: Presiden Jokowi Minta Pengusaha Ikut Mengembangkan Teknologi Digital

    Menurut Jokowi, salah satu temuan Jack Ma yang sudah jamak di Indonesia adalah AliPay. AliPay merupakan online payment platform. AliPay memungkinkan publik tak perlu lagi menggunakan uang fisik atau kartu kredit saat bertransaksi, dan cukup menggunakan koneksi internet dan gawai. Di Indonesia, hal serupa masih dalam pengembangan dan belum terimplementasi secara luas.

    "Di Cina, bayar tunai di toko-toko besar mungkin diketawain sekarang. Akan ditawari apakah bayar pakai credit (card) atau mobile. Coba, bayar pakai handphone, pakai handphone," ujarnya. Ia seolah menunjukkan rasa heran dan gemas.

    Baca: Jokowi Sebut 6 Masalah Ini Hambat Kemajuan Indonesia

    Jokowi mengakui jalan yang harus dilalui Indonesia begitu panjang untuk mengejar ketertinggalan, tapi bukan berarti tidak bisa. Apalagi jika pengembangan teknologi tidak selalu berkutat pada hal-hal konvensional.

    "Dulu kita bicara internet (dial up), tak lama kemudian bicara mobile internet," kata Jokowi. "Belum selesai bicara mobile internet, sudah ada artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Itulah kecepatan yang harus kita ikuti."

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.