IHSG Dibuka Melemah 5,11 Poin ke Level 5.600,42

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • IHSG. TEMPO/Imam Sukamto

    IHSG. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini dibuka melemah 0,09 persen atau 5,11 poin ke level 5.600,42. Saat penutupan perdagangan kemarin, indeks ditutup melemah 0,20 persen atau 11,21 poin ke level 5.595,31.

    Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, dalam risetnya, memperkirakan IHSG akan melemah hari ini. "Belum meredanya kekhawatiran global terhadap potensi peningkatan tensi geopolitik membuat IHSG harus menerima kenyataan pahit merasakan imbas pelemahannya," katanya seperti dikutip dari riset, Jumat, 21 April 2017.

    Menurut Reza, mood positif pelaku pasar terlihat belum kembali dan cenderung masuk pada saham-saham second liner dengan pergerakan jangka pendek untuk mendapatkan gain sesaat. "Kami berharap pelemahan mereda. Namun tetap waspadai masih potensi pelemahan seiring kondisi bursa saham global yang kurang baik," ujarnya.

    Reza berujar, berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama dan kedua berada di level 5.583,77 dan 5.572,24. Sedangkan resistance pertama dan kedua berada di level 5.613,10 dan 5.630,90. "Ini mengindikasikan potensi bearish lanjutan. IHSG berpeluang menuju level support di area 5.584 dan 5.572," tuturnya.

    Setelah masa libur pilkada DKI Jakarta, menurut Reza, laju IHSG memang cenderung melemah. Selain itu, kondisi bursa saham global masih dalam teritori negatif. "Hasil pilkada DKI bukanlah satu-satunya sentimen yang membuat IHSG melemah karena kemenangan salah satu pasangan calon," ucapnya.

    Adanya penguatan saham-saham yang terkait dengan kemenangan salah satu calon dan pelemahan pada saham-saham yang terkait dengan calon yang kalah, kata Reza, hanya sentimen sesaat. "Karena adanya persepsi sesaat pelaku pasar yang mencoba menghubung-hubungkan kondisi politik dengan pasar modal," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).