Managing Director IMF Promosikan Kopi Indonesia di Washington  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Managing Director International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Jakarta, 1 September 2015. Dalam pidatonya Christine mengatakan bahwa Indonesia memiliki satu potensi terbesar yaitu sumber daya manusia usia muda yang tersedia dalam jumlah besar. Berbeda dengan negara ASEAN lainnya, diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia akan terus meningkat hingga 180 juta pada tahun 2030. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Managing Director International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Jakarta, 1 September 2015. Dalam pidatonya Christine mengatakan bahwa Indonesia memiliki satu potensi terbesar yaitu sumber daya manusia usia muda yang tersedia dalam jumlah besar. Berbeda dengan negara ASEAN lainnya, diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia akan terus meningkat hingga 180 juta pada tahun 2030. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Washington DC -Managing Director International Monetary Fund atau Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Christine Lagarde secara khusus mempromosikan kopi Indonesia di hadapan seratusan jurnalis yang hadir di kantor pusat IMF di Washington DC, Kamis, 20 April 2017 pagi waktu setempat. "Siapa pun yang ingin kopi enak dan kuat, silakan datang ke anjungan Indonesia," katanya menunjuk pada gerai yang secara khusus disediakan buat Indonesia di lobby utama kantor IMF.

    Anjungan atau booth 5X6 meter di salah satu sisi lobby Kantor Pusat I (HQI) IMF itu disiapkan oleh tim Bank Indonesia. Di sana, Bank Indonesia menyediakan fasilitas pembuat kopi dan menyewa para barista atau peramu kopi yang secara khusus melayani siapa pun yang datang ke IMF selama perhelatan Pertemuan Musim Semi atau Spring Meeting IMF dan Wolrd Bank Group 2017.

    Antrean tampak mengular sejak gerai dibuka kemarin. Menjelang sore hari kemarin, Christine Lagarde tampak di antara yang mengantre kopi. Salah satu pejabat IMF yang ditemui Tempo di depan gerai bahkan mengaku hari itu dia sudah tiga kali mengantre karena ketagihan.

    Menurut Dinar Fiskiawan, salah satu anggota tim Bank Indonesia yang menyiapkan gerai itu, mereka membawa beberapa jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia. "Kami bawa masih dalam bentuk biji hijau, karena barista di sini ingin memanggang sendiri kopinya agar sesuai dengan standar mereka," kata Dinar. Beberapa jenis itu antara lain Kopi Gayo, Kopi Wamena, dan Kopi Toraja, dan Kopi Bajawa dari Flores.

    "Waktu mengantre, Mrs Lagarde mengingatkan agar dalam pertemuan tahunan IMF tahun depan di Bali, jangan lupa menjajikan kopi Indonesia. "Pasti semua orang akan minum banyak," Dinar menirukan Lagarde.

    Tak hanya berhenti sebagai penikmat kopi Indonesia, Lagarde berbagi pengalaman itu di hadapan seratusan jurnalis dari berbagai negara yang datang meliput pertemuan IMF ini. Ketika ia hendak menjawab pertanyaan salah satu wartawan Indonesia yang hadir di konferensi pers itu, ia menyempatkan diri bicara khusus soal rencana pertemuan tahunan IMF yang pada Oktober 2018 mendatang akan dilaksanakan di Bali.

    Lagarde menyampaikan apresiasinya terhadap Pemerintah Indonesia atas kesediaannya mempersiapkan pertemuan tersebut. Selanjutnya, Lagarde menyelipkan sanjungannya atas kopi Indonesia dan mempersilakan para wartawan mencoba kopi yang tersedia di gerai Indonesia.

    Dalam Pertemuan Musim Semi di Washington kali ini, hadir beberapa pejabat dari Indonesia. Mereka antara lain Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Bank Dunia; Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro. Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Panjaitan juga akan hadir menyusul dalam kapasitasnya sebagai pejabat yang ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk memimpin tim persiapan pertemuan tahunan IMF di Bali tahun depan.

    Y. TOMI ARYANTO (Washington DC)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).