IMF : Pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang Kuat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan IMF. shutterstock.com

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan IMF. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk kawasan negara berkembang masih cukup kuat pada 2017-2018.

    Dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu, 19 April 2017, IMF memproyeksikan, pada 2017 kawasan tersebut akan tumbuh 4,5 persen atau naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 4,1 persen. Selanjutnya pada 2018, PDB kawasan ini akan kembali tumbuh hingga 4,8 persen.

    Kebangkitan di sejumlah raksasa negara berkembang seperti Rusia dan Brazil menjadi pendorong utama kebangkitan negara berkembang. Pulihnya harga komoditas diperkirakan menjadi penopang pulihnya perekonomian kedua negara itu.

    Baca
    Apa Alasan Menteri Rini Pilih Pahala Mansury Pimpin Garuda?  
    Bisnis Jasa Nitip, Mulai Jutaan Hingga Miliaran Rupiah
    Dukung Tol Laut, Pemerintah Bangun 'Rumah Kita' di 19 Lokasi  
    Bisnis Bioskop, Hibah Korea Selatan dan Anang Hermansyah

    Adapun, kelompok Asean 5 yang terdiri dari Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Indonesia diperkirakan akan tetap mengalami pertumbuhan yang cenderung moderat.

    Pada tahun ini kawasan tersebut akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0 persen atau naik dari 2016 sebesar 4,9 persen. Sedangkan untuk 2018 pertumbuhan ekonomi akan menembus 5,2 persen. Derasnya arus investasi dan pulihnya harga komoditas menjadi salah satu alasan kuat mengapa kawasan ini kembali melanjutkan pertumbuhan ekonominya.

    “Namun demikian, ancaman pada ekonomi dunia masih cukup besar. Kombinasi dari cuaca buruk, kerusuhan sipil dan kelaparan massal akan menggangu pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan,” katanya.

    Adapun ancaman bagi negara berkembang, menurut Obstfeld, akan muncul dari proses normalisasi moneter Bank Sentral AS. Pelarian arus modal keluar dalam bentuk dolar AS akan terus terjadi seiring kenaikan bertahap pada suku bunga The Fed. Selain itu momentum baik ini berpeluang gagal berlanjut apabila AS melakukan proteksi perdagangan. Di sisi lain, ancaman juga akan datang jika proses reorientasi ekonomi China dari berbasis industri ke jasa dan konsumsi gagal berjalan dengan mulus.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H