Harga Lahan Kawasan Industri Tinggi, Diduga Ada Ulah Spekulan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan burung jalak membentuk pola menyerupai pesawat saat bermigrasi melintasi langit kawasan industri Neot Hovav, dekat kota Beer Sheva, Israel, 26 Desember 2016. REUTERS/Baz Ratner

    Ribuan burung jalak membentuk pola menyerupai pesawat saat bermigrasi melintasi langit kawasan industri Neot Hovav, dekat kota Beer Sheva, Israel, 26 Desember 2016. REUTERS/Baz Ratner

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan pelaku usaha kawasan industri Tanah Air menyebut harga lahan kawasan industri yang naik dapat disebabkan oleh harga perolehan lahan yang juga sudah tinggi. Apalagi ulah spekulan tanah masih belum bisa dihindari.

    Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengatakan pada beberapa kawasan yang tengah dikembangkan, harga lahan yang dijual ke tenant melonjak karena di wilayah tersebut kerap ada spekulan yang menjual lahan ke KI dengan harga tinggi.

    “Harga perolehan lahannya juga sudah tinggi, bisa ada ulah spekulan. Jadi kalau dibilang harga lahan di kawasan industri mahal, perlu dilihat juga faktornya apa. Supply dan demand mempengaruhi, tapi juga tergantung harga pembeliannya (oleh KI),” kata Sanny di Jakarta, Rabu, 19 April 2017.

    Baca: Industri Terpaksa Impor Bahan Baku Rp1,3 Triliun per Tahun

    Sebelumnya, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian Imam Haryono menyebut harga lahan di kawasan industri melonjak. Hal ini terjadi sejak pemerintah mewajibkan industri masuk ke kawasan industri pada 2010.

    Akibatnya harga kawasan industri di Jabodetabek dan sekitarnya lebih mahal dibandingkan negara lain. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Perindustrian, harga lahan di Jabodetabek dan sekitarnya merupakan yang tertinggi kelima di Asia setelah Taipei, Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong.

    Baca: Kadin Siap Bantu Pemerintah Rumuskan Kebijakan Properti Nasional

    Begitu juga jika dibandingkan dengan negara-negara kompetitor utama industri Indonesia, seperti Vietnam, Bangkok, Malaysia, dan Filipina. Harga lahan di kawasan industri Indonesia melampaui sewa lahan di sejumlah negara tersebut. Hal ini meresahkan pemerintah mengingat beberapa produk manufaktur Indonesia bersaing dengan output negara-negara tersebut dalam merebut pasar global.

    Sebelumnya, Konsultan Colliers International Indonesia mencatat penjualan lahan sepanjang 2016 lalu mencapai 174,90 hektare. Mayoritas komposisi transaksi terjadi di kawasan Bekasi dengan jumlah penjualan 97,20 hektare, adapun di Karawang 23,60 hektare, dan Serang 31,60 hektare.

    Dalam laporannya, pencapaian tersebut hanya sekitar 50 persen dari realisasi penjualan sepanjang 2015 seluas 347,51 hektare. Namun, hasil tersebut bukan menjadi hal yang buruk dalam catatan Colliers sebab perolehan 2015 ditopang oleh satu transaksi besar seluas 100 hektare dari Modern Cikande.

    Jika secara umum dilihat perolehan 2016 dan 2015 tidak jauh berbeda. Ke depan sektor lahan industri memilik prospek yang paling baik di antara sektor properti lainnya. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penjualan lahan pada kuartal III/2016 yang mencapai 59 hektare, naik 103 persen dibandingkan dengan pencapaian kuartal II/2016. Adapun, pada kuartal VI/2016 meski tidak terjadi pertumbuhan, penjualan berhasil mencapai 68,70 hektare.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.