Prediksi Kelompok ASEAN-5: PDB Indonesia Tertinggi ke - 3

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan IMF. shutterstock.com

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan IMF. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia, yang tergabung dalam kelompok Asean-5 versi Dana Moneter Internasional (IMF), diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi tertingi ketiga di bawah Filipina dan Vietnam.

    Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2017, IMF memprediksi kelompok negara Asean 5 yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam akan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat selama 2017-2018.

    Indonesia diprediksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen pada tahun ini dan 5,3 persen pada 2018. Level tersebut berada di bawah Filipina yang diproyeksikan tumbuh 6,8 persen dan Vietnam dengan 6,5 persen pada 2017.

    Lihat jugaDaya Saing SDM Dunia, Indonesia Kalah Sama Vietnam

    Sementara itu, pada periode yang sama di bawah Indonesia terdapat Malaysia dengan 4,5 persen dan Thailand 3,0 persen.

    “Kelompok negara ini mendapatkan dorongan secara jangka pendek dari permintaan domestiknya yang kuat. Khusus untuk Filipina, belanja publik yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, mampu membuat PDB negara ini melejit,” tulis IMF dalam laporan tersebut hari ini, Rabu, 19 April 2017.

    BacaSatu Lagi, Produsen Mobil Cina Masuk di Indonesia

    Sama seperti negara berkembang dunia lainnya, beberapa negara di Asean-5 ini juga mendapatkan sentimen positif dari mulai pulihnya harga komoditas dunia. Indonesia dan Malaysia menjadi yang paling terpengaruh.

    Di sisi lain, bagi Thailand, tahun ini akan menjadi periode di mana sentimen negatif tahun lalu akan berlanjut pada tahun ini. IMF mencatatkan, penurunan pada sektor pariwisata dan konsumsi sepanjang tahun lalu, telah melukai pertumbuhan ekonomi Negara gajah Putih tersebut pada 2016.

    Sementara itu, di Asia Barat, India diprediksi akan mencatatkan pertumbuhah ekonomi 7,2 persen pada 2017. Level tersebut dikoreksi dari proyeksi Oktober 2016 yang memprediksikan bahwa pada tahun ini India akan tumbuh 7,6 persen.

    Koreksi itu merupakan dampak dari keputusan Perdana Menteri India Narendara Modi yang menarik sejumlah mata uang nasionalnya yang berdenominasi besar. Akibatnya Negeri Bollywood mengalami krisis sementara akibat kekurangan uang tunai di pasar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.