Menteri Riset Katakan Bangka Belitung Layak Dibangun PLTN

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengamati riset di bidang energi dan energi terbarukan sangat penting digali di Provinsi Bangka Belitung salah satunya pemanfaatan tenaga nuklir.

    “Listrik di Babel masih sangat kurang, hari ini saya sudah mengalami empat kali mati lampu. Riset di bidang pembangkit listrik dari tenaga nuklir sangatlah bermanfaat, hampir semua negara maju di dunia telah memanfaatkan tenaga nuklir sebagai sumber energi “ ujarnya saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara Dies Natalis ke-11 Universitas Bangka Belitung, Kamis, 13 April 2017.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat, 14 April 2017, Nasir mengatakan, riset pembangkit listrik tenaga nuklir dunia saat ini sudah mencapai generasi ke IV yaitu High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR).

    “Teknologi ini sangat aman, karena jika terjadi bencana reaktor akan shutdown secara otomatis, sehingga memiliki level keamanan yang sangat tinggi", ungkapnya.

    Nasir menambahkan satu pembangkit listrik tenaga nuklir dapat menghasilkan lebih kurang 5600 MW listrik. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah melakukan studi kelayakan dan  uji tapak pembangunan PLTN di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan. Dari kajian tersebut disimpulkan bahwa pada kedua Kabupaten tersebut layak dibangun PLTN.

    "dari hasil kajian, struktur tanah di bangka belitung cocok untuk PLTN, karena selama ini cukup stabil dan bebas dari gempa", ujarnya.

    Lebih lanjut Menristekdikti mendorong tumbuhnya budaya penelitian di perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus mampu menangkap peluang riset yang memiliki manfaat besar bagi daerahnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.