Bekraf Dorong Bank Syariah Danai Industri Kreatif

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, memberikan sambutan dalam Acara

    Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, memberikan sambutan dalam Acara "Gala Dinner Bekraf dan Insan Media" di Senayan, Jakarta Selatan, 31 Oktober 2016. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Surabaya - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong agar perbankan syariah berkontribusi lebih besar terhadap perkembangan industri kreatif di Indonesia. Pihaknya kini sedang memperkenalkan pola bisnis industri kreatif kepada perbankan syariah.

    “Saya berharap pembiayaan bisa sebesar Rp 1 triliun dari perbankan syariah untuk mereka,” kata Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo kepada wartawan usai acara pelatihan Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan Perbankan Syariah untuk Komunitas Ekonomi Kreatif di TS Suites Surabaya, Rabu, 12 April 2017.

    Baca: Bekraf Keliling Tiga Kota Cari Desainer Muda Berbakat

    Tahun ini merupakan tahun perdana perbankan syariah ikut andil dalam permodalan industri kreatif. Dua bank pelat merah, BNI Syariah dan BRI Syariah, telah menandatangani Nota Kesepahaman dan bersiap mengucurkan modal. Sementara pada 2016 lalu, perbankan konvensional mampu menyalurkan kredit sekitar Rp 4 triliun bagi pelaku industri kreatif. Apalagi, potensi pemanfaatan pembiayaan syariah tersebut, kata Fadjar, masih sangat besar.

    Meski begitu Bekraf menyadari, pelaku ekonomi kreatif memiliki kendala dalam hal pencatatan dan laporan keuangan untuk kepentingan mengakses pembiayaan perbankan. Tak sedikit dari mereka yang mengajukan kredit bukan karena membutuhkan, namun gencarnya promosi. Akibatnya, mereka malah terjebak utang yang tidak tepat.

    Baca: DKI Ajak Pengusaha Muda Kembangkan Ekonomi Kreatif Betawi

    Maka, pihaknya menilai perlu menyelenggarakan pelatihan pengelolaan keuangan yang baik dan benar untuk mempersiapkan para pelaku ekonomi kreatif. Tujuannya supaya mereka dapat lebih siap menakar kebutuhan dan mempersiapkan persyaratan untuk mendapatkan pembiayaan perbankan. “Karena kredit itu bukan hibah,” tutur Fadjar.

    Di sisi lain, potensi organisasi filantropi menawarkan potensi yang lebih besar. Meski lebih banyak bersifat sosial, penggerak filantropi dalam negeri telah menyampaikan keinginan untuk mengembangkan modal ventura berbasis filantropi. “Dalam waktu dekat, mereka akan merilis program yang akan mencari bisnis-bisnis yang memiliki pengaruh sosial. Nilainya puluhan triliun,” ujar dia.

    Pelatihan pengelolaan keuangan dan pembiayaan perbankan syariah itu dihadiri sekitar 60 pelaku ekonomi kreatif dari 5 asosiasi di Surabaya. Di antaranya ialah Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Komunitas Hijabers Mom, Surabaya Creative City Forum, serta Komunitas Tangan di Atas.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.