Pindah Ibu Kota, Menteri Bambang Contohkan Brasil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, 15 Maret 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, 15 Maret 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke luar pulau Jawa mengambil contoh dari ibu kota negara yang pernah pindah, yakni Brasil.

    "Ini mirip seperti ketika Brasil memindahkan ibu kota dari Rio Janeiro ke Brasilia, karena Brasilia bisa menjadi ibu kota yang bisa membuka perkembangan dan pertumbuhan baru di wilayah pedalaman Brasil," ujar Bambang di kantornya, Selasa, 11 April 2017.

    Menurut dia, secara letak geografis, Rio Janeiro posisinya berada di pantai yang letaknya terlalu selatan, sedangkan daerah Amazon yang banyak kemisikinan tersebut posisinya jauh di utara.

    Baca: Wacana Pemindahan Ibu Kota, Ini Potensi Ekonomi Palangka Raya

    "Pemerintah Brasil memilih kota yang dekat dengan Amazon yaitu Brasilia meski tidak di Amazon itu sendiri. Akhirnya Brasilia menjadi kota terbesar ketiga di sana," kata Bambang.

    "Jadi Brasil kan ingin memeratakan pembangunan di Rio Janeiro, Sao Paolo, dan Amazon dengan Brasilia-nya, nah kami ingin meratakan pembangunan luara Jawa dengan Jawa," sambung dia.

    Bambang mengatakan, untuk pemilihan lokasi ibu kota baru itu lebih baik membangun dari area baru karena lebih mudah. Sebab, kata Bambang, pemerintah ingin kota ini menjadi contoh seperti pembangunan yang berkelanjutan, smart, dan green city.

    Baca: Usul Palangka Raya Jadi Ibu Kota Sejak Presiden Sukarno

    "Tapi juga supaya ekonominya tidak terlalu berat untuk memulai dari nol, sebaiknya meskipun baru kota ini tidak berjauhan dari kota yang sudah eksis. Jadi bukan daerah yang jauh dari mana-mana," tutur Bambang.

    Salah satu kriteria yang menjadi perhatian Kementerian PPN adalah ketersediaan lahan yang luas, dan sudah dalam penguasaan negara. Jadi tidak perlu lagi adanya pembebasan tanah. Sementara, tanah yang luas adanya di luar pulau Jawa, kita juga memperhatikan letak geografis.

    "Kondisi geografis selama ini kan hanya terfokus di Jakarta yang merupakan wilayah barat, jadi kita harus lebih memilih lebih ke tengah daripada ke barat karena Indonesia kan barat, tengah, timur," ungkap Bambang.

    Baca: Ibu Kota Pindah ke Palangkaraya, Bappenas: Kajian Selesai Tahun Ini

    Menurut dia, nantinya kota tersebut akan terbagi beberapa zona, tapi di awal akan difokuskan zona pemerintahannya. Selebihnya nanti akan ada zona tempat tinggal, zona bisnis, zona lingkungan dan zona lainnya.

    "Intinya seluas mungkin lebih baik, kita tidak ingin menjadikan kota yang sangat padat, tidak nyaman untuk penduduknya," ucapnya.

    RICHARD ANDIKA | EA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?