Ditopang Kenaikan Harga Komoditas, Penguatan Rupiah Akan Terbatas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan, dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistyo membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 6 April 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan, dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistyo membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 6 April 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi memiliki ruang penguatan terbatas hari ini salah satunya karena ditopang oleh kenaikan harga komoditas global. Rupiah tercatat menguat ketika dolar Amerika Serikat (AS) melemah merata di Asia.

    Pada pembukaan perdagangan kemarin, rupiah sempat tertekan namun akhirnya menguat tajam menjelan penutupan, yaitu berada pada level 13.323 per dolar AS.  "Secara umum kenaikan harga komoditas dan aliran dana asing ke instrumen keuangan masih menjadi penopang utama rupiah," ujar Analis Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, dalam keterangan tertulis, Selasa, 11 April 2017.

    Baca: Kurs Rupiah Melemah, Tertekan Naiknya Indeks Dolar Amerika Serikat

    Rangga melanjutkan harga minyak dunia kembali menguat di tengah isu geopolitik yang mendominasi. Isu itu tak hanya tentang serangan AS ke Suriah, tapi juga kembali ditutupnya ladang minyak di Libya. Emas dan US Treasury dilaporkan menguat, meskipun indeks dolar AS terkoreksi, akibat penguatan euro.

    Untuk yield obligasi di negara maju tercatat semakin menurun, sedangkan di sejumlah negara berkembang meningkat. Hal itu menurut Rangga menunjukkan adanya preferensi risiko yang bergeser ke aset yang lebih aman di tengah memuncaknya isu geopolitik.

    Baca: Imbas Kenaikan Fed Rate, Rupiah Diprediksi Menguat  

    "Flight to safety beratkan Surat Utang Negara (SUN), sentimen domestik masih positif," kata Rangga.

    Penurunan yield SUN, menurut Rangga, menandakan masih ada sentimen positif yang tersisa dari dalam negeri, meskipun secara umum ruang penguatan sudah mulai terbatas. "Lelang SUN ditunggu hari ini, diperkirakan minat investor masih cukup tinggi."

    Sementara itu, Analis Saham dari Samuel Sekuritas, Muhamad Makky Dandytra mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih mempertahankan uptrend jangka pendek sejak pertengahan Maret lalu.

    IHSG tercatat tidak pernah turun di bawah 5.620, sehingga diprediksi pekan ini sangat mungkin menyentuh level 5.700 sesuai skenario. "IHSG akan flat sebagai akhir dari koreksi dalam dua hari terakhir sebelum melanjutkan kenaikan ke 5,700 di minggu ini," ujar Makky.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.