Investasi Sektor Kimia, Tekstil, dan Aneka Dipatok Rp 115 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang kain pusat tekstil Blok A, Pasar Tanah Abang. TEMPO/Imam Sukamto

    Pedagang kain pusat tekstil Blok A, Pasar Tanah Abang. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Gresik —Kementerian Perindustrian memproyeksikan investasi di sektor industri kimia, tekstil, dan aneka bisa mencapai Rp 115 triliun pada tahun ini. Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono menuturkan angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi sepanjang tahun lalu yang nilainya Rp 89 triliun.

    Realisasi tersebut melebihi target yang ditetapkan sebelumnya senilai Rp75 triliun.

    “Kami optimistis dapat mencapai target tersebut karena kami terus mendorong melalui berbagai program,” ujarnya di acara peresmian fasilitas produksi bleaching earth Clariant di Gresik, Selasa, 4 April 2017.

    Sigit menjelaskan pada tahun lalu kendala yang menghambat pertumbuhan investasi di sektor IKTA berada di sektor tekstil, di mana impor kain terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Dengan adanya impor tekstil tersebut, utilisasi produk tekstil dalam negeri turun ke angka 50 persen hingga 60 persen.

    Untuk itu, Kemenperin menggandeng Kementerian Perdagangan untuk membatasi impor tekstil dalam rangka menjaga industri tekstil dalam negeri tetap hidup. Selain itu, dia menyebutkan pihaknya juga bergerak ke hulu untuk mendorong pertumbuhan industri tekstil domestik.

    Saat ini, lanjutnya, ada beberapa investor yang mulai masuk Tanah Air dengan nilai investasi yang cukup tinggi.

    “Ada Chandra Asri dan Lotte yang investasinya masing-masing US$5 miliar. Kalau satu tahun US$1 miliar atau sekitar Rp 1 triliun sudah cukup tinggi, jadi kami optimistis dapat capai target,” kata Sigit.

    Terkait dengan pembangunan fasilitas produksi bleaching earth baru milik Clariant, dia memandang hal ini sebagai salah satu pendorong pengurangan impor bahan kimia khusus. Menurutnya, selama ini sebagian besar bahan kimia khusus didatangkan dari luar negeri.

    “Kebutuhan bleaching earth akan naik seiring tumbuhnya industri crude palm oil. Clariant Indonesia menjadi produsen bleaching earth paling besar di Tanah Air dengan kapasitas produksi 210.000 ton per tahun,” ujarnya.

    Anggota Komite Eksekutif Clariant Christian Kohlpaintner mengatakan fasilitas produksi yang baru ini akan melengkapi kapasitas produksi yang telah ada sebelumnya. Pembangunan fasilitas produksi pertama di Jatim ini berlangsung selama 17 bulan atau dimulai pada November 2015.

    “Dengan adanya bleaching earth yang baru ini kapasitas produksi kami akan naik sebesar 35 persen,” ujarnya.

    Fasilitas produksi baru tersebut tepatnya berada di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Manyar, Gresik. Christian menjelaskan pemilihan lokasi ini berdasarkan adanya fasilitas penunjang seperti deep seaport, jaringan jalan tol, dekat dengan bandar udara, serta lebih dekat untuk melayani konsumen yang berada di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, sehingga lebih efisien dari segi biaya dan waktu.

    Adapun, wilayah Asia Tenggara dan Pasifik menjadi fokus pengembangan bisnis perusahaan karena ekonomi di wilayah ini masih tumbuh dengan baik. Di Indonesia, Clariant telah memiliki enam lokasi produksi, yakni di Gresik, Tangerang, Cileungsi, Cimapang, Cikampek, dan Medan.

    Unit usaha functional minerals Clariant selama ini memasok ke pelanggan di seluruh dunia dengan spesialisasi produk-produk yang berbasis bentonit. Selain tambahan lokasi baru di Indonesia, penambahan kapasitas produksi juga dilakukan di Turki pada April 2017 dan Mexico pada April 2016.
    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.