Suplai Terbatas, Serapan Properti Retail pada Kuartal I 2017 Rendah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung toko busana asal Swedia H&M mulai mengantre dari Rabu subuh di Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta (9/10). Pada hari pertama pembukaan H&M di PIM, toko ini menawarkan gift card Rp 500 ribu untuk 5 pengantre pertama. Twitter.com/Pondok Indah Mall

    Sejumlah pengunjung toko busana asal Swedia H&M mulai mengantre dari Rabu subuh di Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta (9/10). Pada hari pertama pembukaan H&M di PIM, toko ini menawarkan gift card Rp 500 ribu untuk 5 pengantre pertama. Twitter.com/Pondok Indah Mall

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan konsultan properti, Jones Lang Lasalle, merilis market update pasar properti kuartal pertama 2017. Head of Research Jones Lang Lasalle James Taylor mengatakan serapan pasar properti retail pada kuartal I 2017 rendah.

    "Sebab, suplainya terbatas, sementara tingkat keterisiannya (okupansi) tinggi," kata James Taylor saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu, 5 April 2017.

    Baca: Properti Ritel di Jakarta Menumpuk

    Pada kuartal I 2017, serapan pasar properti retail berada di angka 1.100 meter persegi dengan tingkat keterisian 89 persen. Kemudian existing stock-nya berada di level 2,8 juta meter persegi dengan rental outlook yang bertumbuh.

    Menurut Taylor, kondisi pasar properti retail sangat stabil untuk saat ini, meski kondisi penyerapannya lebih rendah sejak 2014 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebelum 2014, rata-rata serapannya adalah 166.500 meter persegi dan turun menjadi 62 ribu meter persegi sejak 2014 hingga 2016.

    Kondisi ini ditambah dengan hanya dibangunnya dua pusat perbelanjaan dalam lima tahun ke depan, yaitu Pondok Indah Mall III dan AEON Mall. Sedangkan pada kuartal I 2017, tak ada pembangunan properti retail baru di Jakarta.

    Taylor menuturkan pihaknya memprediksikan tingkat keterisian pasar retail pada lima tahun ke depan masih akan tinggi, yakni di atas 90 persen. Begitu pun tingkat sewa pasar retail yang masih akan tinggi dalam lima tahun ke depan.

    Baca: Kontrak Kereta Cepat Diteken, Teten: Ini Revolusi Transportasi

    Menurut Taylor, permintaan terhadap properti retail seperti mal sangat tinggi bagi sektor makanan dan minuman, kosmetik, serta hiburan. Hal ini karena kebiasaan masyarakat mencari hiburan di pusat perbelanjaan.

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.