Atasi Kemacetan, Wali Kota Tangerang Ingin Bangun LRT  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangunan bentang tiang dalam tahap penyelesaian proyek Light Rail Transit (LRT) di sisi jalan tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, 21 Maret 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Pembangunan bentang tiang dalam tahap penyelesaian proyek Light Rail Transit (LRT) di sisi jalan tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, 21 Maret 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah berharap rencana pembangunan light rail transit (LRT) bisa terwujud sebagai upaya mengatasi kemacetan.

    "Pembangunan LRT telah lama direncanakan Pemkot Tangerang dengan adanya dukungan dari Pemprov Banten melalui Dinas Perhubungan. Karena itu, diharapkan rencana tersebut bisa terealisasi dan bukan wacana," katanya, Rabu, 5 April 2017.

    Baca: Lebaran 2 Bulan Lagi, Menhub Cari Solusi 6 Titik Rawan Kemacetan

    Apalagi dirinya pernah berkomunikasi dengan pengembang swasta dan sangat mendukung sekali adanya transportasi massal yang menghubungkan Kota Tangerang dan Tangerang Selatan.

    "Hal ini sangat sejalan dengan rencana pemkot mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi massal," ujarnya.

    Baca: KCIC dan HSRCC Resmi Garap Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Selain itu, jika LRT bisa terwujud, kemacetan di daerah lain, seperti Jakarta, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan, bisa diselesaikan.

    Karena itu, Arief meminta PT Banten Metro Transit Indonesia selaku pelaksana pembangunan bisa melibatkan para pengembang dalam hal pembangunan infrastrukturnya. Selain dapat mengurangi ongkos investasi, hal tersebut juga diharapkan akan lebih mengefektifkan operasional LRT.

    "Makanya mungkin trasenya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan karena beberapa waktu lalu saya pernah ngobrol dengan pengembang, seperti Alam Sutera, mereka siap berkolaborasi," ujarnya.

    Saat ini, untuk mengatasi kemacetan di dalam kota, telah disiapkan bus rapid transit (BRT) dengan koridor Poris-Jatiuwung.

    "Sekarang, kita optimalkan dengan BRT. Ditambah lagi dengan adanya Transjabodetabek yang terintegrasi sehingga bisa mengurangi kendaraan pribadi," ucapnya.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten Revri Aroes, yang didampingi Direktur PT Banten Metro Transit Indonesia Thomas dan Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Inka) Agus Purnomo, melakukan kunjungan ke Kantor Wali Kota Tangerang akhir bulan lalu dalam rangka penjajakan pembangunan LRT.

    Thomas menjelaskan, untuk pembangunannya, pihaknya telah membentuk konsorsium, yang salah satu anggotanya adalah PT Inka. Dia juga menjelaskan, untuk pembiayaannya, murni bersumber dari perusahaan swasta.

    "Pra-FS sudah ada sejak 2014. Sekarang, FS-nya sudah ada. Kalau izin sudah keluar, lahan ready, dua tahun selesai. Inka menyanggupi pengadaan kereta dalam 18 bulan," ujarnya.

    LRT yang akan dibangun ini menghubungkan Kota Tangerang dengan Kota Tangerang Selatan, tepatnya dari Stasiun Rawa Buntu menuju Stasiun Batuceper, dan terintegrasi dengan moda transportasi lain, seperti kereta bandar udara, KRL, BRT, dan MRT, yang saat ini sedang dibangun. Adapun panjang LRT sekitar 22,3 kilometer.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.